Berbagi praktik baik dan tugas-tugas yang telah dibuat selama PPG Prajabatan, semoga dapat menjadi referensi untuk menyelesaikan study
Tuesday, November 15, 2016
tugas respon biodas UNM
Monday, October 17, 2016
BODY 2016
dwahhh gimana nihh guys apakah kalian sudah mempersiapkan diri buat Body??? Body adalah singkatan dari biologi open day yang diadakan oleh jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam event ini ada beberapa lomba yaitu : Olimpiade (SD, SMP, SMA)
Akustik
LKTI (mahasiswa)
Bio Recyle
Storry Telling
Debat
Journalism
Lombanya itu diadakan besok Rabu, 19 Oktober 2016 di Universitas Negeri Makassar kampus parangtambung. Event nasional ini akan di hadiri beberapa universitas di indonesia, pokoknya dalam event ini sangat seru apalagi tersedia stand prodi yg bisa di kunjungi ada gemes dan souvenir pokoknya ngak ikut pasti nyesal. Buruan daftarkan sekolah/ universitas kaian guys. #AyoIkutBody 2016
Jenis-jenis Majas
- Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
- Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
- Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".
- Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
- Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
- Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
- Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
- Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
- Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
- Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
- Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
- Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
- Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
- Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
- Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
- Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
- Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
- Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
- Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
- Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
- Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
- Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
- Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
- Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
- Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
- Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
- Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
- Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
- Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
- Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
- Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
- Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
- Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
- Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
- Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
- Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
- Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
- Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
- Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
- Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
- Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
- Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
- Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
- Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
- Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
- Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
- Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
- Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
- Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
- Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
- Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
- Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
- Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
- Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
- Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
- Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa.
- Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
- Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
- Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
KD 3.5 Mengevaluasi teks pantun
|
Aspek
|
Rincian
|
|
|||
|
Kurang D (10)
|
Cukup C (15)
|
Baik B (20)
|
Amat baik A (25)
|
||
|
Isi
|
Selaras dengan tema, mengandung pesan,
harapan aktual dan berguna sesuai dengan jenisnya utuh dan tuntas
|
|
|
|
|
|
Diksi dan Gaya Bahasa
|
Mencerminkan kekayaan,
Pembendaharaan kata, bervariatif dan
sesuai konteks. Menggunakan kata kiasan, unik, simbolis, bergaya bahasa
secara variatif
|
|
|
|
|
|
Rima
|
Berima sesuai criteria, terpola secara
teratur, berima secara variatif
|
|
|
|
|
|
Struktur Baris dan Bait
|
Tersusun sesuai aturan. Terpola secara
teratur dan konsisten
|
|
|
|
|
pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak
menyalah artikan apa yang akan disampaikan.
(merasakan) dan imaji visual (melihat). Imaji taktil terdapat pada
larik pertama dan kedua. Sedangkan imaji visual terdapat pada
larik ke tiga dan empat
pembaca mudah mengerti terhadap apa yang disampaikan.
pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak
menyalah artikan apa yang akan disampaikan.
(melihat) dan imaji taktil (merasakan). Imaji visual terdapat pada
larik pertama dan kedua. Sedangkan imaji taktil terdapat pada
larik ke tiga dan empat
pembaca mudah mengerti terhadap apa yang disampaikan.
pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak
menyalah artikan apa yang akan disampaikan.
pembaca mudah mengerti terhadap apa yang disampaikan.
|
Perbedaan
|
Pantun
|
Syair
|
|
Jumlah bait
|
Satu bait cukup
|
Lebih dari satu
bait
|
|
Isi
|
Terdapat pada
baris ke tiga dan ke empat
|
Dalam satu bait
semuanya isi
|
|
Sampiran
|
Terdapat pada
baris pertama dan kedua
|
Dalam satu bait
dalam satu bait tidak ada sampiran
|
|
Rima akhir
|
Bersajak a-b-a-b
|
Bersajak
a-a-a-a, i-i-i-i
|
|
Aturan
|
Terikat oleh
aturan
|
Tidak terikat
oleh aturan
|
|
Persamaan
|
Pantun
|
Syair
|
|
Jumlah baris dalam satu bait
|
4 baris
|
4 baris
|
|
Jumlah kata
|
4-5 kata
|
4-5 kata
|
|
Jumlah suku kata
|
8-12 suku kata
|
8-12 suku kata
|
|
Perbedaan
|
Pantun
|
Gurindam
|
|
Sampiran
|
Memiliki
sampiran
|
Tidak memiliki
sampiran
|
|
Jumlah kata
|
4-5 kata
|
Tidak terikat
|
|
Persamaan
|
Pantun
|
Gurindam
|
|
Jumlah baris
|
2 baris dalam satu bait
|
2 baris dalam satu bait
|
|
Rima akhir
|
a-a
|
a-a
|
|
No.
|
Teks pantun
|
Klasifikasi Pantun
|
|
|
1.
|
Burung
nuri burung dara,
Terbang
ke sisi taman kayangan.
Cobalah
cari wahai saudara,
Makin
diisi makin ringan.
|
9
|
Pantun nasihat
|
|
2.
|
Elok
rupanya kumbang janti,
Dibawa
itik pulang petang.
Tidak
berkata besar hati,
Melihat
ibu sudah datang.
|
2
|
Pantun suka cita
|
|
3.
|
Asam
kandis asam gelugur,
Ketiga
asam riang-riang..
Menangis
mayat di pintu kubur,
Teringat
badan tidak sembahyang.
|
10
|
Pantun jenaka
|
|
4.
|
Batu
dibancah jangan diungkit,
Kalau
diungkit kayunya tumbang.
Lebih
parah daripada sakit,
Karena
kekasih diambil orang.
|
1
|
Pantun teka-teki
|
|
5.
|
Kalau
merumput dahan dikerat,
Siapkan
lidi buang miangnya.
Kalau
menjemput degan adat,
Pulangkan
balik dengan lembaga.
|
7
|
Pantun nasib
|
|
6.
|
Burung
gelatik burung tekukur,
Ketiga
dengan burung elang.
Adik
cantik berbudi luhur,
Membuat
hamba mabuk kepayang.
|
8
|
Pantun beriba hati
|
|
7.
|
Air
pasang bulanpun terang,
Hanyutlah
sampan dari Jawa.
Jika
datang hati yang bimbang,
Bagaikan
hilang rasanya nyawa.
|
6
|
Pantun berkasih-kasihan
|
|
8.
|
Orang
Padang mandi ke gurun,
Mandi
berlimau bunga lada.
Hari
petang matahari turun,
Dagang
berurai air mata.
|
3
|
Pantun agama
|
|
9.
|
Dalam
bergalah jangan berkayuh,
Kalau
berkayuh bertambah basah.
Kalau
bersusah jangan mengeluh,
Kalau
mengeluh bertambah susah.
|
4
|
Pantun perpisahan
|
|
10.
|
Laut
merah tak bergelombang,
Lading
hijau penuh ilalang.
Hati
siapa tak bimbang,
Berkepala
botak minta dikepang
|
5
|
Pantun adat
|
untuk membuat pakaian adat.
Apa guna orang berpantun,
untuk memberi petuah amanat.
Makna : Guna orang berpantun adalah untukmemberi nasehat kepada orang
lain
Apa guna orang bertenun,
untuk membuat kain selendang.
Apa guna orang berpantun,
untuk memberi hukum dan undang.
Makna : Guna orang berpantun adalah untuk memberikan aturan dan undang
-undang
Apa guna orang bertenun,
untuk membuat kain dan baju.
Untuk apa orang berpantun,
untuk menimba berbagai ilmu.
Makna : Guna orang berpantun adalah untuk berbagi ilmu antar sesama
Kalau hendak berlabuh pukat,
carilah pancang kayu berdaun.
Kalau kurang mengetahui adat,
carilah orang tahu berpantun.
Makna : Jika kita kurang mengetahui adat kita bisa mencari orang yang pandai
berpantun
berikut ini.
kuda ditunggang patang tulang.
Masih mau mengaku muda,
Padahal cucu keliling pinggang.
Makna : tidak usah mengaku mudah lagi, kalau sudah mempunyai banyak
cucu
(b) Burung pipit memakan padi,
burung enggan pergi ke hutan.
Tidak puas di dalam hati,
kalau tidak bersama tuan.
Makna : adanya ketidak puasan seseorang
(c) Buah cempedak di luar pagar,
ambil galah tolong jolokkan.
Saya budak baru belajar,
kalau salah tolong tunjukkan.
Makna : Seseorang yang baru belajar tentang sesuatu dan jika ia melakukan kesalahan jangan segan-segan untuk menegurnya
(d) Kayu cendana di atas batu,
sudah diikat dibawa pulang.
Adat dunia memang begitu,
benda yang buruk memang terbuang.
Makna : Suatu benda di dunia jika sudah buruk maka akan langsung dibuang
(e) Orang Bayang pergi mengaji,
Ke Cubadak jalan ke Panti.
Meninggalkan sembahyang jadi berani,
Seperti badan tak akan mati.
Makna : Seseorang yang dengan berani meni8nggalkan sembahyang seolah-olah ia akan tetap hidup sepanjang masa
-
Majas perbandingan Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas perbandingan Alegori : Menyatakan dengan cara lain, melalui ki...
-
DOWLOAD LKPD LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK PETUNJUK PENGERJAAN LKPD 1. Berd oa lah sebelum mengerjakan LK PD 2. Memb...
-
K.D 3.2 Membandingkan teks eksplorasi kompleks cerpen CerpenJuru Masak Unsur intrinsik a) Tema : keahlian ...