Monday, September 3, 2018

CONTOH KASUS PENDIDIKAN DENGAN KAJIAN FILSAFAT

KAJIAN ONTOLOGI                                   
            Cabang Ontologi, yaitu berada dalam wilayah ada. Kata Ontologi berasal dari Yunani, yaitu onto yang artinya ada dan logos yang artinya ilmu. Dengan demikian, ontologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keberadaan.
Pertanyaan yang menyangkut wilayah ini antara lain: apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimanakah hakikat dari objek itu? Bagaimanakah hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan dan ilmu? Sehubungan dengan hal tersebut, dilihat dari judul tesis yang dianalisis, maka kajian ontologi atau asal-usul keilmuannya adalah dalam bidang ilmu kependidikan yaitu ilmu pendidikan luar biasa dengan model pendekatan pendidikan inklusif. Ilmu Pendidikan Luar Biasa dengan model pendekatan pendidikan inklusif dapat dipahami melalui objek materi dan objek formal. Dimana dalam hal ini objek material yang akan dibahas yaitu Guru Pembimbing Khusus (GPK).
            Keberadaan GPK sebagai objek material akan dipahami melalui uraian objek formal yaitu sistem pelayanan Pendidikan Luar Biasa  (PLB) yang mempersyaratkan agar anak luar biasa belajar bersama dengan teman-teman mereka disekolah-sekolah terdekat, guna mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak luar biasa. Sesuai dengan ketetapan UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan UU No 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa  setiap warga negara mempunyai  hak  yang sama  untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Dalam usaha mengoptimalkan potensi yang dimiliki ABK, maka diperlukan strategi penanganan ABK termasuk dalam pemberian layanan yang berbaur dengan anak normal pada umumnya.
            Budiyanto, dkk (2009) menyatakan bahwa strategi penanganan ABK bersama anak-anak normal yakni dalam tiga model pendidikan yaitu mainstreaming, integratif dan inklusi.
            Sesuai dengan judul tesis yang dianalisis maka dalam hal ini lebih diperdalam mengenai pedidikan inklusi. Shevin dalam Direktorat PLB (2005) inklusi merupakan sistem pelayanan pendidikan luar biasa yang mempersyaratkan agar ABK bisa belajar dengan teman-teman mereka di sekolah sekolah terdekat. Melalui pendidikan inklusi, ABK dididik bersama teman-temannya yang normal untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
            Untuk mencapai tujuan tersebut maka dalam sekolah penyelenggara pendidikan inklusif perlu di dukung oleh tenaga pendidik keahlian khusus  dalam proses pembelajaran dan pembinaan anak-anak berkebutuhan khusus secara umum. Salah satu tenaga khusus yang diperlukan adalah Guru Pembimbing Khusus (GPK). Guru Pembimbing Khusus (GPK)  adalah guru yang bertugas mendampingi di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dan memiliki kompetensi dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus. Disamping itu, GPK mempunyai latar belakang pendidikan khusus atau pernah mendapat pelatiha khusus tentang PLB dan ditugaskan di sekolah inklusi.
            Sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar pendidikan nasional pasal 41 tentang setiap bantuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif harus dimiliki tenaga kependidikan yang mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah inklusif, diperlukan kolaborasi antar guru baik guru kelas, guru mata pelajaran, dan GPK. GPK bertugas mendampingi guru mata pelajaran dalam pross pembelajaran, memberikan pengayaan, melakukan terapi, dan membimbing anak-anak sesuai dengan kekhususannya. Kinerja GPK dapat ditinjau dari kualifikasi pendidikan, masa kerja dan status kepegawaian.
            Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. Berdasarkan judul tesis yang dianalisis “Kinerja Guru Pembimbing Khusus Ditinjau Dari Kualifikasi Pendidikan, Masa  Kerja Dan Status Kepegawaian Di SD Inklusif  Surabaya”. Dari pemaparan sebelumnya mengenai kajian ontologinya, maka dalam hal ini penulis menganut aliran realisme.

KAJIAN EPISTEMOLOGI
            Kajian epistemologi atau langkah-langkah keilmiahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan komparatif yang bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah berlangsung. Dalam penelitian komparatif ex post facto peneliti berusaha mengidentifikasi faktor utama yang menyeabkan perbedaan tersebut. Penelitian komparatif ex post fact juga merujuk pada pengaruh dan yang mempengaruhi telah terjadi dalam tinjauan ke belakang. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan yaitu untuk mengetahui kinerja GPK yang dilihat dari segi kualifikasi pendidikan, masa kerja sebagai guru, dan status kepegawaian di sekolah dasar inklusif Surabaya.
            Adapun variabel penelitian kualifikasi pendidikan terdiri dari dua variasi yaitu PLB dan non PLB, masa kerja menjadi guru terdiri dari dua variasi yaitu masa kerja kurang dari 5 tahun dan masa kerja lebih dari atau sama dengan 5 tahun. Sedangkan status kepegawaian juga terdiri dari dua variasi yaitu PNS dan non PNS.
            Untuk mencapai tujuan penelitian yaitu mengetahui kinerja GPK ditinjau dari kualifikasi pendidikan, masa kerja dan status kepegawaian, maka dalam hal ini prosedur kegiatan penelitian dibagi menjadi dua langkah yaitu persiapan dan pelaksanaan. Pada langkah persiapan, hal-hal yang dilakukan antara lain:
1.      Observasi pada daerah sasaran penelitian
2.      Mengidentifikasi jumlah sekolah dasar penyelenggara inklusif
3.      Menentukan sampel
4.      Menentukan tempat pelaksanaan penelitian
5.      Merancang instrumen
6.      Menyusun petunjuk instrumen
7.      Uji coba instrumen
8.      Review instrumen dan rancangan kembali
Sedangkan pada langkah pelaksanaan yaitu melakukan penilaian kinerja GPK berdasarkan instrumen dan melakukan observasi. Di akhir penelitian, dlakukan pengelompokan data informasi berdasarkan kualifikasi pendidikan, masa kerja, dan status kepegawaian, yang kemudian dianalisis secara deskriptif dan varian (anova)
            Untuk melakukan penilaian terhadap kinerja GPK, maka tentunya dibutuhkan beberapa data sebagai  bahan informasi atau keterangan baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta. Sehingga dibutuhkan tekhnik pengumpulan data.  Adapun tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup yang didasarkan pada pemikiran: 1) mempermudah responden dalam menjawab pertanyaan dan jawaban lebih terarah, 2) tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pengisisan jawabannya, 3) dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden, 4) mempermudah peneliti dalam menganalisis. Selain angket juga digunakan observasi yang dilakukan disekolah dengan melihat GPK dalam menjalankan tugasnya.
            Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data, dalam penelitian ini tekhnik analisis data yang digunakan adalah tekhnik statistik deskriptif yang digunakan untuk memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau populasi. Untuk mencari perbedaan antara masing-masing variabel maka digunakan tekhnik uji Analisys of variance (ANOVA) multiple slassification, pengujian dilakukan secara serempak. Namun sebelum data dianalisis menggunakan tekhnik uji ANOVA, terlebih dahulu melakukan uji normalitas menggunakan  kolmogrof – smirnov serta  shapiro – wilk dan uji homognetas menggunakan levene’ test.  Adapun pengujian normalitas dan homogenitas data juga dilakukan secara komputerisasi menggunakan program SPSS statistic 17.0 version.

KAJIAN AKSIOLOGI
            Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditentukan beberapa hal yang berkaitan dengan kinerja guru pembimbing khusus ditinjau dari kualifikasi pendidikan, masa kerja dan status kepegawaian di SD penyelenggara inklusif Surabaya sebagai berikut:
1.      Tidak ada pengaruh signifikan antara kualifikasi pendidikan PLB dan non PLB terhadap kinerja GPK di SD penyelenggara inklusif Surabaya
2.      Tidak ada pengaruh signifikan antara masa kerja kurang dari lima tahun dan lebih atau sama dengan lima tahun terhadap kinerja GPK di SD penyelenggara inklusif Surabaya
3.      Tidak ada pengaruh signifikan antara status kepegawaian PNS dan non PNS terhadap kinerja GPK di SD penyelenggara inklusif Surabaya
Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada keterkaitan  antara kualifikasi pendidikan, masa kerja dan status kepegawaian terhadap kinerja GPK.
            Dengan melihat kesimpulan dari hasil analisis penelitian yang telah dilakukan, maka kajian aksiologi atau manfaat penelitian ini antara lain:
1.      Manfaat teoritis
a.       Menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan dalam memahami tugas pokok dan fungsi GPK
b.      Dapat mengetahui sejauh mana pengaruh kualifikasi pendidikan, masa kerja dan status kepegawaian terhadap kinerja GPK
c.       Hasil penelitian dapat dimanfaatkan bahan kajian penelitian yang berkaitan dengan peningkatan kinerja guru
2.      Manfaat praktis
a.       Dapat  dijadkan bahan untuk melanjutkan bahan kajian penelitian lebih dalam dan sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya dan sebagai umpan balik untuk penyempurnaan peran dan fungsi GPK
b.      GPK dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan refleksi diri sehingga dapat mengoptimalkan kinerja guru dalam menangani ABK pada saaat proses pembelajaran
3.      Pemerintah dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam proses penentuan kebijakan dan pembenahan konsep penyelenggara inklusif yang berkaitan dengan GPK
4.      Supervisor pendidikan dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai bahan informasi bagi tindakan praktis upaya meningkatkan kinerja GPK dan halhal apa yang harus dioptimalkan dalam meningkatkan kualitas kinerja guru.
5.      Hasil penelitian ini seharusnya menjadi gambaran dan cambuk bagi para alumni PLB untuk lebih menunjukkan kualifikasi kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak berlatarbelakang keilmuan PLB dalam menjalankan tugas sebagai GPK kelak


Saturday, March 4, 2017

HAKEKAT MANUSIA



Assalamualaikum,
            Saya mulai mengenal filsafat pada saat saya kuliah. Saya juga baru tahu ternyata ada juga matakuliah di jurusan biologi yaitu filsafat pendidikan. Setelah 2 kali petemuan saya rasa agak sulit memahami filsafat tersebut mungkin di karenakan pak ismail selaku dosen filsafat pendidikan mempunyai gaya bahasa yang tinggi. Saya setuju sama beliau yang berpendapat filsafat itu sebaiknya di pelajari di semester tinggi. Well, yang saya dapat dari hasil kuliah kemarin:
Hakekat manusia sebagai makluk alamiah dan makluk social
*      Pendidikan khas manusia
*      Anak didik (manusia) komponen sentral dalam sistem pendidikan
*      Konsep/pandangan guru tentang hakekat anak menentukan strategi praktek pendidikannya
*      Pandangan yang benar dan jelastentang hakekat anak akan terhindar dari akses dampak negative perkembangan iptek yang pesat
      Lapisan perilaku makhluk :
*      An organis (tunduk pada hukum alam) dan organis, dikuasai oleh hukum alam dan hukum sebab   akibat. Tidak ada yang mampu mengalahkan hukum alam.
*      Vegetatif atau perilaku nabati.
*       Berperilaku seperti hewan
*       Lp Human, bijaksana, berbudaya
*      Hanya manusia yang memiliki religius

Pengertian manusia
Manusia, ''Mano'' (sangsakerta), Mens (latin) Befikir, berakal budi atau homo sapiens yang berarti manusia.

Ada tiga kategori Makhluk 
1.    Hewan :
*      Tidak berakal, mempunya insting yang dimiliki, bertindak menurut insting, tidak mengenal etika.
*      Seketika lahir 1-2 menit bisa berdiri.
*      Hewan hanya bisa berkoloni, setiap koloni akan timbul permusuhan.
2.    Manusia :
*      Berakal, berilmu, didik, tidak berdaya sama sekali saat dilahirkan, makhluk biologis, potensi yang akan berkembang, , memiliki etika, estetika dan agama.
*      Secara fisik tidak berdaya kecuali insting yang dimiliki.
*      Manusia bermasyarakat, sifat bermsyarakat cendrung bersifat koloni, contoh pada partai politik. Hanya mementingkan koloninya.
*      Setiap tindakan memiliki rasa tanggung jawab.
3.    Ghaib :  Tak tampak.

Wujud sifat hakikat manusia
*   Kemampuan menyadari diri, harus melalui proses perenungan, penghayatan dalam bahasa agama khusyuk.
*   Manusia memiliki kamampuan jati diri (eksistensi).
*    Kata hati tidak semua orang mendengar kata hatinya. Contoh : Orang yang mau mencuri tanpa mendengar kata hati, banyak ikatan yang rusak karena membohongi kata hati.
*   Memiliki moral, banyak kejadian yang tidak bermoral.
*   Manusia tercipta untuk bebas , sampai dimanakah batas-batas kebebasan  itu ? misalnya demo, orang lain mempunyai kebebasan untuk tidak terganggu, batas kebebasan adalah kebebasan orang lain. Ketika melewati batas kebebasan orang lain. Maka,  kebebasan itu  tak bertanggung jawab.
*   Melaksanakan kewajiban dan menyadari hak, boleh saja atas nama demokrasi, namun terapat muslihat belaka yaitu dibarengi dengan kepentingan pribadi.
*   Kemampuan menghayati kebahagiaan.

Kemampuan beresistensi
              Ketika seseorang melakukan tindakan amoral, maka dia bukan manusia. Karena dia tidak bisa menghadirkan dirinya. Menjadi  artinya semua manusia memilki proses yaitu menjadi namun tidak akan ada yang jadi. Maksudnya tidak ada yang sempurna, sebab yang jadi atau sempurna itu hanya milik Tuhan. Contoh hari ini kita berada dalam Km 39 kemarin Km 40 dan hari esok km 38. Maksud dari contoh ini ialah dari hari ke  hari kita harus mendekati kesempurnaan. Dalam proses yang terjadi jika kita dihadapi oleh moral maka kita harus meng-ada jika tidak maka kita tidak akan menjadi manusia. Meng­-ada merupakan terfungisonalisasinya manusia.

Pandangan tentang hakikat manusia
1.    Pandanagan Psikoanalitik (analisis kejiwaan)
  Pemenuhan kegiatan manusia itu merupakan naluri  (insting) dan manusia menggunakan akal.
  Struktur kepribadian manusia :
*         Id merupakan potensi diri atau bawaan sejak lahir berfungsi untuk menggerakkan manusia dalam rangka kebutuhan primer.
*         Ego merupakan berbenturan persoalan realitas, ego selalu mengendalikan kebutuhan id, jika tidak terpenuhi maka muncul sifat non positif.
*         Super ego merupakan pengontrol pengawas berkaitan dengan moral. Kegagalan super ego mengontrol ego maka manusia berbuat-buat semaunya.
2.    Pandangan Neoanalitik
Manusia tercermin oleh pengemasan keinginan :
*         Id untuk memenuhi kebutuhan dasar sedangkan.
*         Ego untuk keinginan yang mampu melampaui kebutuhan.
3.    Pandangan Humanistik
        Menghargai harkat orang lain bahwa orang lain juga mempunyai id, ego, dan supar ego. Manusia cenderung mampu mambaca nilai-nilai aturan moral yang berlaku disekitarnya. Misalnya menghargai orang lain.
4.    Pandangan behavioristik
Pandangan prilaku manusia yang selalu dihadapkan oleh pertanyaan, Mengapa prilaku itu muncul.

Dimensi manusia dalam makhluk individu dan social.

*            Homo sapiens, Manusia melalui pemikiran
*            Homo Raturate, manusia melalui penalaran,
*            Homo luden, Manusia ingin menghibur diri
*            Homo Faber
*            Homo sociale
*            Homo simbolis, Manusia bersifat personifikasi 
*            Animal educandum, tidak tahu apa-apa tetapi dididik
*            Animal educable

Yang paling saya tangkap dalam mata pelajaraan ini ialah 2 point penting
*      Men-ada
*      Menjadi

            Dimana menjadi ialah proses/ perjalanan menuju pada sebuah titik, tetapi kita tidak akan sampai ke titik tersebut. Ketika manusia sempai ketitik itu itu bukan lagi “menjadi” melainkan “jadi” manusia dalam melakoni hidupnya itu dalam rentang menjadi yang berarti tidak pernah jadi. Jadi itu adalah sempurna. Dan yang sempurna hanyalah Allah. Dalam islam itu dikatakan bahwa
“ sesungghnya manusia itu merugi, ketika hari kemarin sama dengan hari ini, dan besok sama dengan hari ini”
            Jika di ibaratkan titik kesempurnaan ada pada km 100, maka manusia menjalani hidupnya dari hari ke hari jika hari ini ada di titik ke-40 maka besok harus ada di km 41 dan besoknya lagi di km 42, jadi ketika manusia kemarin di km 40, hari ini di km 40 itulah manusia yang merugi dan bila besok di km 40 maka bangkrutlah manusia tersebut. Dan pada km 100 tidaka aka nada yang dapat menyampai titik itu karena hanya di tempati yang maha kuasa. Sesungguhnya keberadaan manusia itupun hanya dalam proses. Didalam melakoni proses menjadi tantangan demi tantangan hadangan demi hadangan kita diperadabkan dalam keseharian yang berbenturann dengan aspek moralitas kita. Maka pada setiap detik demi detik dimana tuhan berkata meng-adalah disitu, didalam proses menjadi kita berhadapan berbegai tantangan, rintangan dan hadangan, terutama ketika berhadapan dengan dimensi moralitas manusia sebagai makhluk yang bermoral. Maka seperti apapun tantangan itu berusahalah untuk selalu meng-ada kitaka anda tidak meng-ada maka sesungguhnya anda adalah hewan yang berjalan, hewan yang berbicra.

Insyaallah saya akan menjadi J
                                               

MODUL AJAR IPA KELAS VIII

PDF