Wednesday, May 3, 2023

JURNAL REFLEKSI (PROYEK KEPEMIMPINAN)

 

Nama Matakuliah

Proyek Kepemimpinan

Review pengalaman belajar.

Topik 1 : Visi Guru Profesional

Topik satu mata kuliah proyek kepemimpinan ini berjudul visi guru professional. Dari topik ini saya belajar bagaimana perlunya seoarang guru untuk memiliki visi, memiliki pandangan ke depan sebagai bentuk daripada keprofesionalannya. Untuk itu salah hal menarik yang kemudian hadir dalam proses pembelajaran topik ini ialah bagaimana saya diarahkan untuk dapat merumuskan sebuah visi individu sebagai seorang guru yang sebelumnya diorientasikan dengan pengatar terhadap visi guru menurut pandangan KHD yang pada intinya adalah untuk melahirkan manusia-manusia Indonesia yang merdeka.

 

Guru adalah teladan, mereka adalah pemimpin di dunia pendidikan. Merekalah yang menjadi ujung tombak upaya menyediakan layanan pembelajaran berkualitas bagi peserta didik. Dengan begitu, sikap melayani dalam diri guru perlu terus dibiasakan dan ditumbuhkan dengan sengaja. Isyarat karakter guru pemimpin yang dapat menuntun kekuatan kodrat peserta didiknya demi menuju keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya telah tampak dalam wejangan Ki Hajar Dewantara yang paling kita kenal: ing ngarsa sung tuladha (di depan peserta didik, menjadi contoh keteladanan), ing madya mangun karsa (di tengah-tengah peserta didik, membangun semangat dan kehendak kebaikan), tut wuri handayani (mengikuti di belakang untuk memberdayakan murid dan mendatangkan manfaat bagi peserta didik).

 

Maka Visi individu yang telah dirumuskan kemudian dikomunikasikan dengan kelompok belajar bersama mahasiswa lainnnya dan bagi saya disinilah pengalam menarik dan mengesankan lainnya pada proses pembelajaran kuliah ini. Dimana setiap anggota kelompok memeberikan tanggapan terhadap visi anggota kelompok yang lain yang kemudian visi masing-masing anggota kelompok disatukan menjadi satu manifesto kelompok. Dari proses tersebut saya banyak belajar bagaimana dan pentingnya apresiasi dalam berhubungan sosial juga dialektika lain yang muncul di dalam kerja kelompok sehingga dapat menghasilkan satu rumusan dari hasil kesepakatan bersama.

Selain menentukan visi saya juga mempelajari mengenai untuk mendesain penumbuhan karakter manusia merdeka di sekolah, kita gunakan perumpamaan gunung es. “Diagram Identitas Gunung Es” ini berusaha menggambarkan bagaimana karakter seseorang ditumbuhkan. Guru adalah petani, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebajikan yang diharapkan sebagai manusia merdeka dalam diri peserta didik.

Oleh karena itu, guru harus terus mengembangkan diri menjadi teladan nilainilai kebajikan dan memanfaatkan ekosistem lingkungan sadar dan bawah-sadar, lingkungan fisik dan psikis, maupun lingkungan ekstrinsik dan intrinsik untuk menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dengan konsisten melalui gotong-royong bersama segenap anggota komunitas di sekolahnya

Topik 2 : Pemetaan Tantangan dan Kekuatan Komunitas / Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Peserta Didik

Topik kedua mata kuliah proyek kepemimpinan ini membahas tentang pemetaan tantangan dan kekuatan kumunitas yang pada prosesnya akan membahas tentang cara perpikir sistem. Topik ini menarik sekaligus bermakna bagi saya oleh karena dalam pembelajarannya saya banyak mempelajari tentang pendekatan berpikir sistem terhadap sebuah organisasi atau kemunitas. Adapun pendekatan yang dimaksud ialah berupa Suistainability NEWS yang dimana  merupakan akronim daripada dimensi sistem yakni Nature, Ekonomy, Wellbeing, dan Society. Saya juga mempelajari tentang pendekatan inquari apresiatif yang adalah pendekatan yang berbasis pada kekuatan daripada sistem yang strateginya dapat dilakukan melalui model 5-D BAGJA.

Proses belajar topik ini kemudian menjadi semakin menarik dan berkesan dengan pengetahuan yang diperoleh oleh kelompok kemudian diimplentasikan ke dalam perumusan proyek perubahan kelompok yang didasarkan pada pemetaan dan tangangan melalui observasi langsung di lapangan.

 

Topik 3 : Perencanaan Implementasi Dan Manajemen Proyek

Pada topik ketiga, pokok bahasan yang dipelajari selama prosesnya ialah terkait dengan perencanaan implementasi dan manajemen proyek. Proyek perubahan yang diprakarsai oleh masing-masing anggota kelompok pada topik sebelumnya kemudian dipilih satu untuk dijadikan sebagai proyek kelompok berdasarkan keputusan bersama. Proyek inilah kemudian disusun rancangan  perencanaan implentasi dan manajemennya sesuai dengan sitematika sayaan yang diperoleh kelompok berdasarkan proses pembelajaran pada topik yang ketika ini dimana dianataranya adalah dimulai dari profil proyek yang berfungsi sebagai informasi umum daripada proyek yang akan dilaksanakan, kemudian alur eksukusi proyek yang dimulai dari perijinan, membangun kemitraan, persiapan sumber daya, pelatihan, pendampingan, evaluasi, serta pelaporan.

Pada masing-masing tahap ini kelompok kemudian merumuskan perihal apa yang mesti dilakukan serta apa hasil yang diharapkan daripada perlakuan tersebut juga waktu yang diperlukan, hal ini penting menurut saya karena dari melalui kegiatan ini kelompok mulai memiliki gambaran kontekstual tentang apa yang mesti dikerjakan pada saat eksekusi kegiatan. Bagian selanjautnya perancangan anggaran, kualitas keberhasilan proyek, tugas dan tanggungjawab masing-masing anggota kelompok, serta terkahir alur komunikasi. Sebagai mahasiswa perumusan rancangan perencanaan implementasi dan manajemen proyek ini penting menurut saya oleh sebab dari proses ini saya dapat berlatih untuk dapat berpandangan kedepan, berimajinasi dalam menyusun rancangan yang mungkin, hasil dari latihan ini dapat berpengaruh pada proses perumusan rancangan pembelajaran yang merupakan suatu kegiatan yang wajib bagi seorang.

 

 

Topik 4 : Projek monitoring, evaluasi, dan laporan akhir.

Pada topik yang keempat dengan pokok bahasan proyek monitoring, evaluasi, dan laporan akhir. Proses yang dilalui oleh saya ialah kurang lebih memiliki kemiripan denga topik sebelumnya karena memang merupakan tahapan sistematis daripada perancangan sebuah proyek perubahan. Pada topik ini khususnya saya diajak untuk membuat sebuah rancangan penyimpangan yang kemungkinan akan muncul terutama pada aspek  waktu pelaksanaan, anggaran dan kualitasdan kemudian merumuskan alternatif perbaikan akan penyimpangan tersebut. Pada topik ini saya dan juga kelompok merumuskan manfaat dari proyek perubahan yang digagas terhadap seluruh pihak yang terkait. Pada topik ini pula saya sebagai anggota kelompok membuat sebuah rancngan persiapan peran dalam proyek kelompok. Proses-proses, tahapan-tahapan ini penting menurut saya oleh karena, melalui proses ini saya dilatih utuk dapat memprediksikan kemungkinan-kemungkinan khususnya kemungkinan negatif dari sesuatu yang nantinya akan dilaksanakan dan kemudian menyusun langkah alternatif jika kemungkinan tersebut menjadi kenyataan pada saat pelaksanaan. Saya juga dilatih dan disadarkan untuk selalu mempersiapkan diri dengan baik dengan mengetahui apa fungsi dan peran saya melalui dalam sebuah pelaksanaan baik secara invdu maupun kelompok melalui pembuatan jurnal peran anggota. Serta dengan pembuat rancangan manfaat proyek, saya lebih diberikan kesadaran bahwa orientasi daripada pelaksanaan segala macam kegiatan dan tindakan ialah manfaat terhadap orang lain.

 

Topik 5 : Proposal Proyek dan Strategi Komunikasi

Topik yang kelima sekaligus topik yang terakhir pada perkuliahan proyek kepemimpinan ini membahas tentang proposal proyek dan strategi komunikasi. Dari topik ini saya kemudian mendpatkan pengalaman terkait bagaimana seharunya sebelum melakukan komukasi dengan pihak-pihak yang dibersangkutan dengan pelaksanaan proyek diperlukan rumusan rencana komunikasi hal ini penting menurut saya agar komunakasi yang nantinya akan dilakukan akan lebih terarah dan terstruktur selain itu agar, kegiatan ini juga dimasukan kepada rancangan anggaran proyek. Dan diakhri perkuliahan topik ini saya dan kelompok diminta untuk merancang sebuah proposal proyek berdassarkan data-data yang telah disusun kelompok semenjak dari awal perkuliahan. Kegiatan ini penting dan bermakna bagi saya oleh sebab dari sini saya kemudian mendapatkan pengalaman bagaimana menyusun sebuah proposal kegiatan yang komprehensif yang bagi saya akan sengat berguna kedepannya dalam perjalan karir dan pengembangan diri saya.

Refleksi pengalaman belajar yang dipilih

Refleksi

Refleksi Topik 2 Pemetaaan Tantangan dan Kekuatan

Sebagaimana diuraikan pada sub review mata kuliah diatas bahwa pada topik ini saya mendapatkan pengalaman belajar tentang bagaimana melakukan pemetaan tantangan dan kekuatan yang hasil ini nantinya akan digunakan guna peningkatan kualitas. Dari topik ini kemudian saya mempelajari cari berpikir sistem yang sebagi sebuah kesatuan daripada beberapa bagian dimana kinerja sistem secara keseluruhan akan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada kinerja bagian-bagian tersebut secara individu.

 

Adapun guna proses pemetaan dan juga pengidentifikasian tantangan dan kekuatan, pada topik ini kemudian saya dikenalkan ada istilah-istilah baru terkait dengan pendekatan yang dapat dilakukan yakni Suistainability NEWS dan inquiri apresiatif dengan menggunakan metode 5D-Bagja yang terdiri atas Define, Discover, Dream, Design, dan Deliver. Singkatnya pada tahapan-tahapan ini difungsikan untuk merumuskan serta menggali potensi-potensi yang dimiliki sebuah sistem untuk kemudian dijadikan pijakan dalam membuat tindakan. Hal ini menjadi penting bagi saya oleh sebab pengetahuan ini akan sangat berguna bagi saya terutama dalam menjalankan fungsi sebagai seorang guru. Dari kedua pendekatan ini saya kemudian dapat beroeritasi terhadap capaian-capaian positif di dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri sebab salah satu definisi dari motode 5D- Bagja ialah “semangat mengapresiasi- dan proses bertahap dalam menyelidiki segala kekuatan, aset, dan hal positif di sekolah (komunitas) yang memungkinkan terjadinya upaya gotong-royong demi mewujudkan prakarsa perubahan yang diperlukan untuk mencapai visi yang berpusat pada peningkatan kualitas pembelajaran murid (anak)”.

 

Adapun dalam proses perkuliahan ini salah satu langkah yang ditempuh mahasiswa termasauk saya dalam mempelajari topik terkait pemataan tantangan dan kekuatan ini ialah dengan mengimplementasikan langsung terhadap proyek perubahan yang sedang digagas oleh kelompok dimana saya dan kelompok saat itu melakukan observasi dan langsung terhadap sasaran proyek serta melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat dan terkait untuk kemudian hasil dari kedua kegiatan tersebut dapat dianalis oleh kelompok untuk memetakan tantangan dan kekuatan yang dimiliki oleh sasaran proyek. Kegiatan ini penting oleh karena, dengan begitu saya dan juga kelompok dapat mengimplentasikan langsung, dapat mengkontestuakan, pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh terkait dengan pendekaran dalam memetakan tantangan dan kekuatan.

 

Analisis artefak pembelajaran

Analisis Artefak

Link Artefak

 

Artefak yang pertama berisi bagan hubungan antar dua gambar impementasi kurikulum merdeka dan keberhasilan proses pembelajaran. Bagan ini disusun dengan menggunakan pendekatan Sustainability NEWS dan metode 5D-Bagja. pendekatan Sustainability NEWS digunakan untuk mengidentifikasi variabel atau instansi yang mempengaruhi keterkaitan kedua gambar yang diperoleh hasil berupa pemerintah, sekolah, pengawas, komite, guru, rumah, dan lingkungan. Kemudian keterkaitan antara variabel-variabel ini diidentifakasi menggunakan metode 5D-Bagja yang pada intinya mencari kekuatan dan tantangan yang dimiliki setiap variabel untuk kemudian dilakukan tindakan dari sana seperti misalnya guru yang merupakan garda terdepan dalam meingkatkan pengetahuan orang dewasa tentang pola pembinaan yang sesuai dengan kondisi perkembangan mental anak.

Artefak kedua berupa pemetaan tantangan dan kekuatan yang didaptkan kelompok dari sasaran proyek perubahan yang akan dilakukan yaitu Sekolah Al-Irsyad di Gorontalo. Pada pemetaan ini terdapat beberapa tantangan yang didaptkan oleh kelompok yakni sekolah tersebut belum memiliki program pembinaan karakter terhadap peserta didik yang dibahas secara lebih khusus. Adapun pembinaan yang diberikan hanya dalam bentuk arahan secara umum terkait dengan hal-hal positif yang harus dilakukan oleh peserta didik. Dari sini pula kelompok selanjutnya merumuskan prakarsa-prakarsa perubahan yang mungkin dapat dilakukan kelompok untuk meningkatkan kualitas pada sasaran proyek.

 

 

Pembelajaran bermakna (good practices)

Kegaitan PPL 1 bagi saya merupakan sarana terbaik di dalam perkulian PPG Prajabatan ini untuk mendapatkan sebuah pembelajaran bermakna, oleh sebab kegiatan PPL 1 ini merupakan praktek langsung daripada apa yang selama ini saya dan mahasiswa lain dapatkan pada saat pembelajaran di kampus. Terdapat banyak hal bermakna yang saya dapatkan dari kegiatan PPL 1 ini, selain daripada yang telah saya jelaskan diatass, satu diantaranya ialah; pembuktian hipotesis saya bahwa sarana-prasarana, fasilitas, kepopuleran sekolah, hanyalah merupakan variabel pendukung pembelajaran adapun kunci keberhasilan utamanya ialah bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung di dalam kelas. Hal ini saya kemukakan oleh karena, saya yang sebelumnya pernah menjadi salah seorang guru dengan status tenaga honorer pada salah satu sekolah di daerah asal saya yang sangat terbatas dalam variabel-variabel yang saya sebutkan diatas namun bagi saya kemampuan peserta didiknya tak kalah dengan kemampuan peserta didik yang saya ajarkan di sekolah tempat PPL 1 yang merupakan salah satu sekolah unggulan di daerah tersebut. Hal ini kembali menguatkan sebuah prinsip pendidikan saya yakni bahwa, “bukan tentang dimana kita bersekolah akan tetapi bagaimana kita bersekolah.”

 

JURNAL REFLEKSI (PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI)

Nama Matakuliah

Proyek Kepemimpinan

Review pengalaman belajar.

Topik 1 : Teori-teori yang mendasari pembelajaran berdiferensiasi

Pengalaman belajar yang penulis dapatkan pada mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi topik satu terkait dengan teori-teori yang mendasari pembelajaran berdiferensiasi ialah perkenalan teori daripada Tomlinson yang menyatakan bahwa usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan beljar peserta didik sebagai individu. Dimana kebutuhan belajar disini dibagi menjadi tiga dimensi yakni kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik. Dari sini topik ini penulis juga mengetahui korelasi antara pembelajaran berdiferensiasi ini dengan pembelajaran pradigman baru yang dibawah oleh peralihan kurikulum menuju implentasi kurikulum merdeka yang membawa penulis pada kesimpulan bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan jalan yang dapat ditempuh agar pembelajaran paradigm baru ini benar-benar dapar terimplentasi dengan baik yang dengan memandang peserta didik sebagai individu-individu yang memiliki keunikannya masing-masing di dalam proses pembelajaran.

 

Topik 2 : Aspek-aspek pembelajaran berdiferensiasi

Topik dua mata kuliah ini membahas tentang aspek-aspek pembelajaran berdiferensiasi. Pengalaman belajar yang penulis peroleh dari topik bahasan ini ialah aspek-aspek pembelajaran berdirefensiasi itu sendiri yang terbagi atas empat yakni aspek konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Keempat aspek ini dapat diimplentasikan pembelajaran berdiferensiasinya dengan menggunakan dimensi kesiapan, minat atau profil belajar peserta didik yang pengampilkasiannya berupa pemberian variasi seperti pada aspek konten misalnya memvariasikan konten materi berdasarkan gaya belajar audio, visual, dan kinestetik. Gaya belajar audio dapat dengan materi dalam bentuk rekaman suara, visual dengan penampilan video atau gambar, sedang kinestetik dengan pengalaman belajar secara langsung.

 

Topik 3: Strategi pembelajaran berdiferensiasi

Pengalaman belajar yang penulis dapatkan dari topik yang ketiga terkait dengan strategi pembelajaran berdiferensiasi ialah berupa pengetahuan akan strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas yang diantranya ialah problem based learning, small grup discussion, jigsaw reading, dan problem based introduction. Adapun selain daripada itu stategi diatas, melalui aktivitas pembelajaran topik ini penulis juga bersama kelompok menemukan merumuskan strategi pembelajaran lainnya yang dapat digunakan yakni strategi SSCS atau Search, Solve, Create, dan Share. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada strategi ini dapat dilakukan degan langkah seperti pada tahap search peserta didik diberik kebebasan untuk mencari informasi berdasarkan gaya belajar masing-masing, yang kemudian pada tahap create juga produk yang dihasilkan juga diselaraskan dengan minat atau kemampuan masing-masing peserta didik.

 

Topik 4 : Rencana dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi

Topik keempat membahas tentang rencana dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Pengalaman bekajar yang penulis dapatkan dari perjalanan pembelajaran topik ini berupa pengetahuan akan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mengimplentasikan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas yang dimana berdasarkan pengalaman tersebut penulis mengetahui bahwa langkah awal dan yang paling penting dalam mengimpelentasikan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas ialah dengan memetakan peserta didik. Pemetaan peserta didik yang dimaksud disini ialah berdasarkan kebutuhan belajarnya yakni dimensi kesiapan, minat, dan profil belajar, dimana pemetaan ini dapat dilakukan dengan melakukan tes diagnostik diawal pembelajaran terhadap peserta didik. Dari hasil ini kemudia guru dapat menyusun rancangan pembelajaran dan kemudian mengimplementasikannya. Dari topik ini penulis juga mendapatkan pengalaman berupa bagaimana menyusun sebuah rancangan pembelajaran berdirefensisi dalam bentuk RPP/ModulAjar dan kemudian mengimplentasikannya di dalam pembelajran microteaching bersama teman sejawat.

 

Topik 5 : Evaluasi pada pembelajaran berdiferensiasi

Topik kelima sekaligus topik terakhir dari mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi ini membahas tentang evaluasi pada pembelajaran berdiferensiasi. Pengalaman belajar yang penulis peroleh dari aktivitas pembelajaran topik ini ialah berupa pengetahuan akan kreteria-kreteria daripada pengimplentasian pembelajaran di dalam kelas yang dimana tidak semua daripada kriteria tersebut telah penulis penuhi dalam rencangan maupun imlentasikan pembelajaran berdiferensiasi yang penulis rumuskan dan lakukan. Pengalaman lainnya ialah bagaimana mengevaluasi hasil rumusan rancangan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dari teman sejawat yang daripada kegiatan ini menambah pengetahuan penulis dalam penguasaan terhadap mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi ini secara keseluruhan.

Refleksi pengalaman belajar yang dipilih

Refleksi

Refleksi Topik 4 Rencana dan Implentasi Pembelajaran Berdiferensiasi

Topik rencana dan implentasi pembelajaran berdiferensiasi menurut hemat penulis merupakan intisari dari proses pembelajaran mata kuliah ini oleh sebab pada akhirnya melalui proses pembelajaran mahasiswa diharapkan mampu untum membuat rancangan pembelajaran berdiferensiasi dan kemudian mengimplentasikan di dalam kelas. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, topik ini penting untuk dipelajari sebab akumulasi akan pengetahuan-pengetahuan terkait pembelajaran berdiferensiasi akan nampak pada rancangan dan implentasi yang kita buat dan lakukan. Untuk mempelajari topik ini penulis membuka kembali bahasan-bahasan terkait dengan dimensi kebutuhan belajar, aspek pembelajaran berdiferensiasi, serta strategi yang dapat dilakukan, selain itu penulis juga mencari contoh-contoh RPP/Modul Ajar pembelajaran berdiferensiasi dari sumber yang relevan serta mengamati video-video yang menampilkan implentasi pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas. Langkah ini penting bagi penulis oleh sebab melalui proses ini penulis dapat memperoleh satu gambaran yang utuh terkait dengan rancangan pembelajaran berdiferensiasi seperti apa yang akan penulis rancangan selanjutnya

 

Analisis artefak pembelajaran

Analisis Artefak

Link Artefak

 

Artefak yang dilampirkan berupa rancangan pembelajaran berdiferensiasi berupa modul ajar serta video implementasi dari rancangan tersebut. Pada rancangan yang penulis susun, penulis mengambil dimensi kesiapan belajar dengan berfokus pada aspek proses. Dimensi dan aspek pembelajaran berdiferensiasi disini akan nampak pada sintaks pembelajaran dengan menggunakan strategi inquiri terbimbing yang dimana pengelompokan peserta didik akan dilakukan berdasarkan kesiapan belajar peserta didik. Kesiapan yang maksud disini lebih cenderung kaitannya dengan kemampuan kognitif peserta didik. Aspek proses yang digunakan penulis disini berupa pemberian variasi dukungan atau bimbingan dimana penulis sebagai guru akan lebih banyak melakukan pembimbingan kepada kelompok peserta didik yang memiliki kesiapan belajar rendah, dukungan disini dimulai dari tahap merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, hingga membuat kesimpulan. Dilihat daripada rencana dan implementasi daripada pembelajaran berdiferensiasi yang penulis rancang dan lakukan, masih memiliki beberapa kekurangan terutama jika dieavaluasi menggunakan intrumen evaluasi pembelajaran berdiferensiasi pada topik kelima akan tetapi terdapat salah langkah yakni langkah terakhir yang penting dalam mengimplentasikan pembelajaran berdiferensiasi sebagaimana tertulis di dalam aktivitas belajar mata kuliah ini yakni, percobaan, dan melalui rancangan modul ajar dan video tersebut penulis telah melaksanakan langkah tersebut yakni mencoba.

 

Pembelajaran bermakna (good practices)

Pembelajaran bermakna dari proses permbelajaran mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi ini ialah pemahaman akan bagaimana orientasi pendidikan yang dirancang oleh pemerintah melalui kementerian pendidikan saat ini ialah bagaimana benar-benar memusatkan pembelajaran terhadap peserta didik dan melalui pembelajaran berdiferensiasi, jalan menuju orientasi ini dapat dilakukan. Tak dapat dipungkiri bahwa pengimplementasian daripada pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas tidaklah mudah untuk dilakukan apalagi dengan realitas dunia pendidikan Indonesia saat ini terutama terkait dengan kesenjangan pendidikan antar daerah serta kesenjangan aspek-aspek yang lain, akan tetapi berdasarkan proses pembelajaran ini penulis mendapatkan pembelajaran bahwa langkah penting dalam pengimplentasian pembelajaran berdiferensiasi ialah mencoba. Untuk itu mari sama-sama kita mencoba, untuk perbaikan pendidikan, untuk menunaikan amanat undang-undang.

 


Friday, March 31, 2023

JURNAL REFLEKSI PPL I (FILOSOFI PENDIDIKAN)

 

Nama Matakuliah

Praktik Pengalamana Lapangan I

Review pengalaman belajar.

Pada Praktik pengalaman lapangan merupakan matakuliah yang ditempuh untuk mengembangkan dan memperkuat kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik profesional di sekolah. Proses mengemban kemampuan mengajar kami sebagai calon guru dengan menerapkan prinsip yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara aitu niteni (mengamati), nirokke (menirukan), dan nambahi (mengembangkan). Pengalaman praktik mahasiswa PPG dirancang sebagai proses perbaikan berkelanjutan melalui format lesson study dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kolaboratif.

Secara umum, PPL bertujuan agar mahasiswa PPG memiliki pengalaman nyata dan kontekstual dalam menerapkan seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dapat menunjang tercapainya penguasaan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi penguasaan materi bidang studi secara utuh.

  1. Terampil mengidentifikasi karakteristik peserta didik, lingkungan belajar, dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah secara mandiri dan bertanggungjawab
  2. Mampu mengevaluasi secara kritis karakteristik peserta didik, lingkungan belajar, dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah, secara kolaboratif dengan teman sejawat, guru sekolah, kepala sekolah, dan dosen pembimbing
  3. Terampil memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi guru di sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah
  4. Terampil menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi yang akan dicapai dengan mengadaptasi karakteristik peserta didik, lingkungan belajar serta tahapan belajar yang sesuai dengan karakteristik bidang ilmu dan teknologi yang dilakukan secara kolaboratif dengan teman sejawat, guru pamong, dan dosen pembimbing)
  5. Terampil melakukan praktik pembelajaran secara terbimbing sesuai dengan RPP yang disusun secara bertanggungjawab dengan mengedepankan nilai etika profesi guru
  6. Terampil melakukan penilaian hasil belajar (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) peserta didik sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian

Asesmen PPL dititikberatkan pada kemampuan mahasiswa dalam berefleksi terhadap praktik pengajarannya. Refleksi bukan sekedar mengingat atau berpikir tentang apa yang telah dilakukan, namun diawali dengan kesadaran dan pemahaman terhadap sebuah problem/dilema dalam pengajaran dan pembelajaran. Kegiatan refleksi diawali dari mengidentifikasi problem/dilema secara kritis dan membuatnya menjadi eksplisit, menganalisis permasalahan, menemukan solusi-solusi secara kreatif, serta melakukan tindak lanjut untuk memperbaiki pembelajaran secara berkesinambungan.

Orientasi PPL I

Mata kuliah sekaligus kegiatan PPL 1 ini diawali dengan kegiatan orientasi yang dilaksanakan di sekolah mitra tempat saya melaksanakan tugas yakni SMA N 3 Gorontalo. Pada kegiatan untuk mengenalkan berbagai hal terkait mendapatkan gambaran umum terkait kondisi sekolah baik dari segi peserta didik, guru dan tenaga pendidik, serta sarana dan prasarana, sekolah, di antaranya manajemen pendidikan yang berlaku di sekolah tersebut, kultur sekolah serta berbagai kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan non akademik lainnya yang diterapkan di sekolah. Kegiatan orientasi dilakukan pada hari pertama dilaksanakannya PPL I di sekolah dan orientasi PPL diberikan oleh Kepala Sekolah atau Penanggungjawab PPL PPG Prajabatan di sekolah.

Adapun kesulitan, hambatan, tantangan dan solusi yang di hadapi pada saat orientasi PPL I

Kesulitan dan Hambatan

  • belum mengenal semua tenaga pengajar 
  • belum mengetahui keadaan dan letak kelas
  • sulit memahami maksud perkataan karena bahasa yang berbeda

Tantangan

  • harus mengenal guru-guru yang ada di sekolah
  • harus pandai berkomunikasi dengan baik
  • harus menghafal letak kelas dan laboratorium yang ada di sekolah

Solusi

  • menyapa guru yang ada di sekolah dan menanyakan nama guru tersebut
  • sering berinteraksi dengan guru dan siswa disekolah
  • sering berjalan-jalan untuk menghafal letak sekolah 

 

Observasi PPL I

Setelah kegiatan orientasi kemudian kami melakukan kegiatan observasi terhadap sekolah, kegiatan ini dipandu dengan lembar-lembar observasi yang telah disediakan pada proses perkuliahan PPL 1 ini dimana untuk mendapatkan data-data yang diperlukan kami melakukan pengamatan secara langsung juga melakukan wawancara terhadap pihak-pihak yng terlibat seperti kepala sekolah, wakil-wakil kepala sekolah, tenaga kependidikan, bendahara, guru pamong, OSIS, dan lain sebagainya. Data-data ini kemudian kami tuangkan dalam bentuk satu bentuk laporan hasil observasi sebagai bentuk analisis data mahasiswa terhadap kondisi sekolah. Kegiatan observasi dan sayaan laporan ini penting oleh sebab hal merupakan salah satu semangat yang dibawah pemerintah terhadap program PPG Prajabatan yakni induksi guru pemula yang dinilai merupakan hal yang penting dilakukan oleh seorang guru di sekolah yang baru.

Faktor penghambat pelaksanaan observasi

Dalam pelaksanaan observasi pastinya ada faktor penghambat yaitu dalam memahami lembar observasi karena di dalamnya ada masih ada pertanyaan yang menimbulkan penafsiran ganda.

Faktor pendukung pelaksanaan observasi

·         Komunikasi dengan guru pamong dan dosen pembimbing lapangan baik, sehingga observasi dapat dilakukan dengan baik

·          Sekolah dan guru-guru yang bersangkutan dengan sasaran observasi menerima baik dan membantu kami dalam melaksanakan observasi

·         Kekompakan dan kerja sama dengan teman-teman observer saling membantu dan saling mengingatkan membuat observasi dapat berjalan lancar

Hal baru yang saya pelajari dari observasi PPL I yaitu sebelum melakukan pembelajaran guru harus mengetahui dan mengobeservasi sekolah yang akan ditempati mengajar semaksimal mungkin kondisi yang ada, baik mengenai sarana pembelajarannya ataupun fasilitas yang lain. Saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, yaitu merasakan terjun langsung kedalam dunia kerja, sebagai calon guru profesional dengan mengamati terlebih dahulu karakteristik peserta didik, lingkungan belajarnya, manajemen sekolah, rancangan modul ajar yang digunakan hingga proses pelaksanaan pembelajarannya.

Asistensi Mengajar

Kegiatan selanjutnya daripada rangkaian kegiatan PPL ini ialah kegiatan asistensi mengajar, dimana pada kegiatan ini kami mahasiswa bertugas sebagai asisten teradap guru pamong dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan ini penting sekaligus bermakna bagi saya oleh karena menjadi asisten pembelajaran yang sekaligus mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru pamong saya kemudian mendapatkan gambaran tentang bagaimana melakukan pembelajaran yang baik terutama pada implementasi kurikulum merdeka. Dalam melaksanakan kegiatan asistensi mengajar dengan membantu guru pamong dalam beberapa hal berikut :

·         Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

·         Menyiapkan bahan ajar, media pembelajaran, serta alat evaluasi

·         Melaksanakan pembelajaran di kelas atau diluar kelas, misalnya membantu guru pamong mengatur kelompok belajar

·         Membagikan lembar kerja peserta didik dan mengkoreksi hasil tes peserta idik

Kami melakukan semua kegiatan asistensi mengajar dan membuat dokumentasi kegiatan dan mencatat yang di lakukan pada saat asistensi. Kegiatan terakhir yang dilakukan pada saat setelah asistensi mengajar adalah refleksi dan Menyusun rencana tindak lanjut mengenai yang harus di kerjakan dalam pembelajaran terbimbing

Pembelajaran Terbimbing

Setelah melakukan kegiatan asistensi mengajar, mahasiswa kemudian diberikan kesempatan untuk melakukan pembelajaran di dalam kelas sebagai guru model dengan sistem pembelajaran termbimbing atau dengan bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing lapanan (DPL). Menarik dan bermaknanya kegiatan ini oleh karena dilaksanakan dengan menggunakan format lesson study selama tiga siklus. Melalui format lesson study ini, yang dengan tahapan plan do see, proses pembelajaran yang dilakukan oleh saya menjadi lebih terarah dan berorientasi pada perbaikan pembelajaran oleh sebab setiap akhir pembelajaran yang dilakukan oleh saya selalu dilaksanakan kegiatan refleksi baik itu bersama teman sejawat, guru pamong maupun bersama-sama dengan DPL.

Pada tahapan Perencanaan/plan kami menysusun perangkat pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model PBL, media pembelajaran yang akan digunakan seperti PPT dan Video pembelajaran, Bahan Ajar dan Asesmen yang digunakan serta pembagian kelas  

Pada tahapan Pelaksanaan/do, pelaksanaan pembelajaran dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pembelajaran dilaksanakan menggunakan model PBL dimana peserta didik di ajak untuk menyelesaikan masalah kontekstual sesuai dengan topik yang dipelajari, proses pembelajaran diamati oleh observer.

Pada tahapan Refleksi/see, kegiatan refleksi dilaksanakan dengan memberikan kesempatan pada guru model dan observer untuk menyampaikan hasil pengamatannya selama proses pembelajaran. Refleksi difokuskan pada pola-pola interaksi antara peserta didik dengan guru, antara sesama peserta didik dan interaksi antara peserta didik dengan media pembelajaran. Refleksi juga dilakukan untuk memberikan saran kepada guru model untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya.

Refleksi pengalaman belajar yang dipilih

Refleksi

Kegiatan pembelajaran terbimbing dilakukan selama tiga siklus dimana setiap siklus dilaksanakan dengan menggunakan format lesson study. Langkah-langkah lesson study menjadi penting bagi saya oleh sebab setiap tahapannya membantu saya untuk dapat merencanakan dan melaksananakan pembelajaran dengan baik serta selalu berorientasi pada perbaikan pembelajaran. Seperti misalnya pada tahap plan yang diisi dengan kegiatan mahasiswa merancangan rencana pembelajaran yang nantinya, rancangan tersebut akan didiskusikan bersama guru pamong. Kegiatan ini menjadi penting bagi saya, karena melalui kegiatan ini saya belajar banyak tentang tata cara pembuatan perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam melaksanakan pembelajaran, seperti perancangan modul ajar dan LKPD.

Tahapan see atau pelaksanaan juga tak kalah penting oleh sebab pada tahap pelaksanaan ini, saya sebagai guru model kemudian selama pembelajaran dibantu oleh teman sejawat dan guru pamong serta DPL yang berperan sebagai observer terlebih khusus terhadap perilaku peserta didik selama pembelajaran. Hingga akhirnya hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer ini masing-masing akan dituangkan pada kegiatan refleksi yakni tahap see pada lesson study. Tahap ini sangat penting menurut saya oleh karena hasil refleksi yang didapatkan akan menjadi sebuah bahan dasar untuk melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus yang selanjutnya. Dan berdasarkan tahapan-tahapan inilah kemudian saya belajar dan berproses untuk benar-benar menjadi seorang guru

Analisis artefak pembelajaran

Analisis Artefak

Link Artefak

 

Artefak yang saya lampirkan diatas merupakan sebuah perangkat pembelajaran yang dirancang dan digunakan saya pada pelaksanaan pembelajaran terbimbing sikus III yang diantaranya berisi RPP, LKPD, bahan ajar, dan bahan presentasi. Materi yang menjadi bahan dasar penyusunan perangkat tersebut ialah materi determinasi seks. Adapun model pembelajaran yang saya gunakan ialah model pembelajaran problem based learning dengan metode diskusi oleh karena itu dalam proses pembelajarannya peserta didik akan melakukan diskusi  terkait dengan persilangan determinasi seks dengan dipandu oleh petunjuk LKPD yang telah saya susun sebelumnya dan termuat pada LKPD.

Penggunaan model pbl ini merupakan hasil diskusi bersama degan guru pamong, karena pada materi tersebut dibutuhkan diskusi untuk penyelesaian masalah selai itu peseta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

 

 

Pembelajaran bermakna (good practices)

Kegaitan PPL 1 bagi saya merupakan sarana terbaik di dalam perkulian PPG Prajabatan ini untuk mendapatkan sebuah pembelajaran bermakna, oleh sebab kegiatan PPL 1 ini merupakan praktek langsung daripada apa yang selama ini saya dan mahasiswa lain dapatkan pada saat pembelajaran di kampus. Terdapat banyak hal bermakna yang saya dapatkan dari kegiatan PPL 1 ini, selain daripada yang telah saya jelaskan diatass, satu diantaranya ialah; pembuktian hipotesis saya bahwa sarana-prasarana, fasilitas, kepopuleran sekolah, hanyalah merupakan variabel pendukung pembelajaran adapun kunci keberhasilan utamanya ialah bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung di dalam kelas. Hal ini saya kemukakan oleh karena, saya yang sebelumnya pernah menjadi salah seorang guru dengan status tenaga honorer pada salah satu sekolah di daerah asal saya yang sangat terbatas dalam variabel-variabel yang saya sebutkan diatas namun bagi saya kemampuan peserta didiknya tak kalah dengan kemampuan peserta didik yang saya ajarkan di sekolah tempat PPL 1 yang merupakan salah satu sekolah unggulan di daerah tersebut. Hal ini kembali menguatkan sebuah prinsip pendidikan saya yakni bahwa, “bukan tentang dimana kita bersekolah akan tetapi bagaimana kita bersekolah.”

 

Thursday, December 22, 2022

Pancasilais di dalam Globalisasi dan Modernisasi


Dewasa ini hal yang paling mungkin menjadi tantangan dalam penghayatan Pancasila sebagai Entitas dan Identias Bangsa Indonesia dan perwujudan Profil Pelajar Pancasila ialah globalisasi. Hal demikian dikarekan dalam proses globalisasi terjadi integrasi antara nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia dan nilai-nilai yang mengemuka dalam pergaulan dunia, terutama dari negara-negara maju. Proses integrase inilah yang kemudian menjadi tantangan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila yang sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai luhur yang menjadi identitas bangsa Indonesia telebih khusus bagi pada peserta didik oleh karena para generasi mudalah yang lebih rentan terhadap proses integrasi ini apalagi ditambah dengan arus kencang modernisasi.

Modernisasi merupakan proses perubahan dari nilai-nilai tradisional menuju nilai-nilai modern. Dengan pengertian ini sangat jelas terlihat bahwa paparan utama dari perkembangan zaman akan sangat lekat kepada peserta didik atau para generasi muda oleh karena bagi mereka nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila dapat saja dianggap sebagai nilai kuno yang sudah tinggalan dan tidak dapat eksis lagi dalam pergaulan zaman. Seperti nilai-nilai kegontog-royongan, nilai-nilai religiusitas, nilaia-nilai kecintaan tanah air, hingga yang paling rentantan adalah nilai-nilai luhur terkait adat dan sopan santun. Oleh karena perkembangan zaman dalam ruang globalisasi dan berikut modernisasi nilai-nilai diatas dapat saja atau mungkin sudah dianggap sebagai nilai yang kuno oleh sebagian peserta didik sehingga keeksisannya di dalam kehidupa bermasyarakat tidak diperlukan lagi karena nilai-nilai modern yang berkembangan itu bertentangan atau membatalkan keberadaan dari nilai-nilai tersebut.

Berkaca dari fenomena diatas dan kemungkinan terburuk yang dapat kita bayangkan bersama, maka sedini mungkin pada generasi muda, para peserta didik ini perlu untuk ditanamkan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila yang saat ini dalam gagasan kementerian pendidikan dikenal dengan istilah profil pelajar Pancasila. Wujud nyata dari gagasan ini dapat diaktualisasikan di dalam kelas melalui kegiatan pembelajaran yang mencerminkan nilai-nilai setiap sila Pancasila seperti berdoa sebemun dan sesuadan belajar, mengucapkan salam, memeberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja secara berkelompok, agar dapat menumbuhkan sikap kerja sama, membiasakan peserta didik untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menyampaikan maupun menuliskan argument, membiasakan mereka memberikan apresiasi terhadap karya orang lain misalkan dalam hal saling memberikan tanggapan pada kegiatan presentasi kelompok dan lain sebagainya. 

MODUL AJAR IPA KELAS VIII

PDF