Wednesday, May 3, 2023

JURNAL REFLEKSI (PRINSIP PEMBELAJARAN ASESMEN YANG EFEKTIF)

 

Nama Matakuliah

Prinsip Pembelajaran Asesmen Yang Efektif

Review pengalaman belajar.

Pada matakuliah prinsip pembelajaran asesmen yang efektif ada 7 topik yang telah dipelajari

Topik 1 : Telaah perencanaan pembelajaran paradigma dan asesmen yang disusun oleh guru


Topik 2 : Merancang Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen yang efektif

Pengalaman-pengalaman mengesankan sekaligus bermakna yang Saya dapatkan pada topik satu berlanjut pada topik yang kedua. Pada topik awal berkenalan dengan istilah modul ajar kemudian diajak untuk membahas lebih dalam lebih dalam terkait dengan modul ajar ini sendiri sesuai dengan judul topik yang akan dipelajari yakni merancang perencanaan pembelajaran dan asesmen. Dalam merancang pembelajaran pembelajaran dan asesmen yang efektif mengacu pada prinsip pembelajaran sebagai berikut :

a.       Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan.

b.      Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat

c.       Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik.

d.      Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan masyarakat sebagai mitra

e.       Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

Topik 3 : Telaah kesesuaian pembelajaran dengan tingkat capaian dan karakteristik peserta didik

Pengalaman belajar yang mengesankan sekaligus bermakna selanjutnya saya dapatkan pada topik yang ketiga pembelajaran mata kuliah ini terkait dengan telaah kesesuaian pembelajaran dengan tingkat capaian dan karakteristik peserta didik yang salah satunya adalah pada saat pengamatan pada salah satu video penerapan daripada pembelajaran yang sebagaimana dimaksudkan khususnya pembelajaran berdiferensiasi. Melalui proses ini kemudian saya mendapatkan satu gambaran yang kontekstual terkait dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi di dalam pembelajaran yang sebelumnya konsepnya juga telah saya pelajari pada mata kuliah pembelajaran berdifensiasi itu sendiri. Dari pengalaman ini saya kemudian semakin menyadari korelasi antara mata kuliah-mata kuliah dengan pengimplementasian pembelajaran paradigma baru dalam kurikulum merdeka. Saya juga semakin menyadari akan semangat perubahan yang ingin disampaikan kementerian daripada peralihan kurikulum ini sendiri.

 

Topik 4 : Lingkungan Kelas yang Aman, Nyaman, dan Berpihak pada Peserta Didik

Pada topik keempat dengan pembahasan lingkungan kelas yang aman, nyaman, dan berpihak pada ekosistem pembelajaran, pengalaman berkesan yang saya dapatkan ialah saat pembahasan topik ini dimulai dengan pertanyaan pemantik berupa “mengapa perlu diciptakan lingkugan kelas yang sebagaimana disebutkan diatas?” Bagian ini berkesan bagi saya karena dengan begitu saya dapat menuangkan satu pengetahuan berdasarkan literasi saya terkait dengan konsep lingkungan belajar daripada KHD yakni kelas tiga dinding yang hakikatnya adalah agar tercipta lingkungan belajar yang nyaman bagi peserta didik. Selanjutnya hal menarik yang saya dapatkan dari pada proses pembelajaran pada topik ini ialah, bahwa lingkungan kelas itu juga tidak hanya berbentuk fisik namun juga dalam bentuk psikis yang pada akhirnya pemenuhan unsur-unsur daripada keduanya dapat berpengaruh positif terhadap prestasi belajar peserta didik. Salah satu unsur menarik bagi saya pada lingkungan psikis ialah  pelaksanaan hak dan kewajiban yang penuh tanggungjawab dari kedua belah pihak yakni guru dan peserta didik. Menarik bagi saya oleh sebab hal ini sering menjadi senjata andalan saya dalam melakukan pembelajaran di kelas ketika suasana kelas sedang tidak kondusif atau sekedar memberi penguatan sebelum memulai pembelajaran.

 

Topik 5 : Pelaksanaan Pembeljaran dan Asesmen yang Efektif

Pada topik yang kelima membahas tentang Pelaksanaan pembelajaran dan asesmen yang efektif. Pengalaman berkesan yang saya dapatkan pada proses pembelajarannya ialah pada saat pelaksanaan mikcroteaching dengan teman sejawat bertindak sebagai peserta didik di dalam kelas. Hal ini berkesan oleh karena, dari pelaksanaannya saya mendapatkan pengalaman tambahan dalam hal merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Meskipun sebelumnya saya pernah mengajar peserta didik dalam artian sesungguhnya akan tetapi mengajar teman sebaya sebagai peserta didik merupakan tantangan tersendiri bagi saya terutama dalam hal keseriusan. Pada akhirnya pengalaman belajar pada topik ini mampu menambah pengalaman yang akumulasinya berpengaruh terhadap keterampilan saya dalam melaksanakan pembelajaran dan asesmen di dalam kelas.  


 

 

Topik 6: Laporan Praktik Pembelajaran dan Asesmen

Pengalaman menarik dan bermakna yang saya dapatkan selanjutnya dari mata kuliah ini ialah perihal penyusunan laporan praktik pembelajaran dan asesmen yang efektif yang juga merupakan judul topik yang keenam. Bagian yang kemudian menjadi menarik dan bermakna adalah laporan itu sendiri oleh karena laporan ini merupakan hal yang baru bagi saya, sebelumnya belum pernah saya rancang atau dengar tentang laporan ini sendiri. Hingga pada akhirnya saya kemudian mengetahui substansi daripada laporan praktik pembelajaran dan asesmen efektif ini dan sistematika penyusunannya yang terbuat pada laporan praktik pembelajaran dan asesmen yang saya telah saya lakukan pada saat kegiatan PPL di sekolah mitra. Dari proses pembelajaran ini saya kemudian mampu untuk menyusun satu laporan yang meski tidak sempurna namun mampu melaporkan substansi-substansi yang diperlukan dalam sistematika sayaannya.

 

Topik 7 : Refleksi Terhadap Praktik Pembelajaran dan Asesmen

Pada topik yang terakhir yakni topik ketujuh yang membahas tentang refleksi terhadap paraktik pembelajaran dan asesmen pengalaman belajar sekaligus baru yang saya peroleh ialah bagaimana pelaksanaan refleksi itu sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa model. Hal ini penting bagi saya oleh karena dengan pengetahuan ini, saya lebih memiliki refensi yang lain dalam melakukan refleksi pembelajaran di dalam kelas. Dalam proses pembelajarannya juga, saya menyusun sebuah laporan refleksi sebagai bentuk refleksi dari pelaksanaan refleksi yang saya lakukan pada saat kegiatan refleksi PPL di sekolah mitra yang dalam proses penyusunannya mengingatkan kembali saya akan praktik-praktik baik telah saya lakukan di dalam kelas juga hal—hal yang perlu diperbaiki dan tingkatkan.


Refleksi pengalaman belajar yang dipilih

Refleksi Topik 1 Telaan Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen yang disusun oleh guru

 

Topik ini memang judulnya ialah telaah perencanaan pembelajaran dan asesmen akan tetapi telaah yang dimaksudkan disini lebih dikhususkan kepada pembelajaran paradigma baru untuk itu sebelum melakukan telaah saya pada proses pembelajarannya dikenalkan dengan bagaimana itu pembelajaran paradigma baru, tentang poin-poin pentingnya yang salah satunya ialah terkait dengan profil pelajar Pancasila. Bagian inilah yang menurut saya penting pada topik ini oleh karena melalui proses pembelajaran tersebut saya kemudian mengetahui semangat daripada peralihan kurikulum menuju kurikulum merdeka yang dibawa dalam pembelajaran paradigma baru yang sebelumnya pengetahuan tersebut belum saya ketahui. Oleh

karena topik ini juga saya kemudian banyak mencari referensi-referensi dari sumber yang relevan tentang bagaimana pembelajaran pada kurikulum merdeka yang menjadi sedang aktual dalam dunia pendidikan Indonesia, selain daripada informasi yang tersedia pada pembahasan topik satu ini. Kegiatan-kegiatan pengumpulan informasi ini penting, bukan hanya sebagai pemenuhan tugas pada topik ini, akan tetapi agar akumulasi-akumulasi informasi yang saya peroleh dapat memberikan satu gambaran umum terkait bagaimana pengimplementasian kurikulum merdeka itu sendiri sebab hal ini merupakan modal wajib yang perlu saya miliki sebelum benar-benar mengabdikan diri sebagai seorang guru.

Analisis artefak pembelajaran

Analisis Artefak

Link Artefak

LK1

 

Artefak yang dilampirkan diatas berupa tugas lembar kerja dimana didalamnya terdapat beberapa pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab saya terkait dengan implementasi daripada kurikulum merdeka khususnya pada proses perencanaan pembelajaran dan asesmen. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diantaranya terkait dengan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik, kemerdekaan penyusunan rancagan pembelajaran bagi guru, siklus pembelajaran paradigma baru, profil pelajar Pancasila, asesmen, serta tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

 

Pertanyaan-pertanyaan diatas kemudian menjadi pemantik bagi saya untuk kemudian menggali lebih dalam daripada implentasi kurikulum merdeka di dalam pembelajaran. Menggali lebih dalam terkait bagaimana gambaran kontekstual daripada pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik dimana salah-satu hal yang didapakan saya ialah pemaksimalan LKPD sebagai panduan peserta didik, pengganti peran guru agar peserta didik dapat belajar secara mandiri. Saya juga diajak untuk mendalami maksud daripada kemerdekaan perumusan rancangan pembelajaran dan asesmen bagi guru yang mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa hal ini dilakukan oleh karena pembelajaran perlu dirancangan dan dilaksanakan dengan menyesuaikan karakteristik serta tingkat pengetahuan peserta didik oleh karena setiap anak memiliki kodrat yang unik sebagaimana petuah KHD apalagi dengan keberagaman sosial-budaya yang dimiliki oleh bangsa nusantara kita ini.

 

Saya juga mencermati bagaimana pelaksanaan siklus pembelajaran paradigma baru yang saling berkaitan antara satu sama lain yakni pemetaan standar kompetenasi, perencanaan proses pembelajaran dan perencanaan asesmen yang secara umum saya gambarkan bahwa analisis standar kompetensi diperlukan sebelum membuat rancangan pembelajaran atau orientasi dari rancangan dan kemudian pelaksanaan pembelajaran ialah hasil daripada analisis terhadap standar kompetensi. Rancangan dan pelaksanaan pembelajaran ini kemudian menjadi acuan dalam menyusun dan melaksanaan asesmen, dan lalu hasil asesmen menjadi bahan dasar dalam penganalisisan standar kompetensi pada pembelajaran selanjutnya dan begitulah siklus ini terus berlanjut. Berdasarkan artefak ini saya pula mencermati profil pelajar Pancasila yang telah dirumuskan oleh kementerian yang terdiri atas enam kompetensi.

 

Selanjutnya tak kalah penting pada artefak ini saya kemudian diarahkan untuk mendalimi terkait jenis-jenis asesmen terutama yang ditekankan pada implementasi kurikulum merdeka yakni asesmen of learning, for learning, dan as learning, dimana salah satu hal yang saya dapatkan ialah bagaimana pada pembelajaran paradigma baru assesmen for dan as learning lebih ditenkankan untuk dilakukan yang terangkum dalam asesmen formatif atau asesmen pada proses pembelajaran dengan tetap mengorientasikan perancangan dan pelaksanaannya pada tingkat capaian dan karakteristik peserta didik. Terakhir dari pertanyaan-pernyataan pemantik tersebut saya diarahkan untuk mencermati langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dan asesmen pada pembelajaran paradigma baru, yang membawa saya pada pengetahuan bahwa langkah tersebut dimulai dari analisis capain pempelajaran dan yang tak kalah penting adalah pengidentifikasian tingkat capaian dan karakterisitik peserta didik di dalam kelas yang akan dibelajarkan nantinya.

Pembelajaran bermakna (good practices)

Banyak hal yang saya dapatkan daripada pembelajaran mata kuliah prisip pengajaran dan asesmen efektif ini akumulasi-akumulasi dari hal tersebu kemudian terangkum dalam pengetahuan yang saya dapatkan tentang bagaimana pengimplementasian daripada kurikulum merdeka dalam pembelajara paradigma baru terutama terkait dengan pembelajaran dan asesmen. Dari proses yang saya lewati selama perkuliahan matakuliah ini saya kemudian mampu untuk merumuskan rancangan pembelajaran dan asesmen yang kemudian saya laksanakan pada saat kegiatan PPL di sekolah. Mendapatkan poin-poin penting yang perlu diperhatikan dalam perumusan dan pelaksananaanya dan hal ini bagi saya sangat bermakna oleh karena merupakan kewajiban daripada seorang guru. Mengingat kembali bahwa salah satu unsur dalam penciptaan lingkungan kelas yang mendukung ekosistem pembelajaran ialah pelaskanaan hak dan kewajiban dengan penuh tanggungjawab, maka sudah sepatnya bagi seorang guru terlebih khusus untuk saya agar dapat melaksanakan kewajiban ini dengan penuh tanggung jawab melalui proses-proses yang telah dijelaskan sebelumnya agar pula gelar guru professional yang nanti akan diperoleh setelah akhir masa perkuliahan ini bukan hanya menjadi penambahan penyematan gelar samata akan tetapi menjadi cerminan daripada pelaksanaan kewajiaban yang penuh tanggungjawab dari seorang guru.

 

JURNAL REFLEKSI (PROYEK KEPEMIMPINAN)

 

Nama Matakuliah

Proyek Kepemimpinan

Review pengalaman belajar.

Topik 1 : Visi Guru Profesional

Topik satu mata kuliah proyek kepemimpinan ini berjudul visi guru professional. Dari topik ini saya belajar bagaimana perlunya seoarang guru untuk memiliki visi, memiliki pandangan ke depan sebagai bentuk daripada keprofesionalannya. Untuk itu salah hal menarik yang kemudian hadir dalam proses pembelajaran topik ini ialah bagaimana saya diarahkan untuk dapat merumuskan sebuah visi individu sebagai seorang guru yang sebelumnya diorientasikan dengan pengatar terhadap visi guru menurut pandangan KHD yang pada intinya adalah untuk melahirkan manusia-manusia Indonesia yang merdeka.

 

Guru adalah teladan, mereka adalah pemimpin di dunia pendidikan. Merekalah yang menjadi ujung tombak upaya menyediakan layanan pembelajaran berkualitas bagi peserta didik. Dengan begitu, sikap melayani dalam diri guru perlu terus dibiasakan dan ditumbuhkan dengan sengaja. Isyarat karakter guru pemimpin yang dapat menuntun kekuatan kodrat peserta didiknya demi menuju keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya telah tampak dalam wejangan Ki Hajar Dewantara yang paling kita kenal: ing ngarsa sung tuladha (di depan peserta didik, menjadi contoh keteladanan), ing madya mangun karsa (di tengah-tengah peserta didik, membangun semangat dan kehendak kebaikan), tut wuri handayani (mengikuti di belakang untuk memberdayakan murid dan mendatangkan manfaat bagi peserta didik).

 

Maka Visi individu yang telah dirumuskan kemudian dikomunikasikan dengan kelompok belajar bersama mahasiswa lainnnya dan bagi saya disinilah pengalam menarik dan mengesankan lainnya pada proses pembelajaran kuliah ini. Dimana setiap anggota kelompok memeberikan tanggapan terhadap visi anggota kelompok yang lain yang kemudian visi masing-masing anggota kelompok disatukan menjadi satu manifesto kelompok. Dari proses tersebut saya banyak belajar bagaimana dan pentingnya apresiasi dalam berhubungan sosial juga dialektika lain yang muncul di dalam kerja kelompok sehingga dapat menghasilkan satu rumusan dari hasil kesepakatan bersama.

Selain menentukan visi saya juga mempelajari mengenai untuk mendesain penumbuhan karakter manusia merdeka di sekolah, kita gunakan perumpamaan gunung es. “Diagram Identitas Gunung Es” ini berusaha menggambarkan bagaimana karakter seseorang ditumbuhkan. Guru adalah petani, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebajikan yang diharapkan sebagai manusia merdeka dalam diri peserta didik.

Oleh karena itu, guru harus terus mengembangkan diri menjadi teladan nilainilai kebajikan dan memanfaatkan ekosistem lingkungan sadar dan bawah-sadar, lingkungan fisik dan psikis, maupun lingkungan ekstrinsik dan intrinsik untuk menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dengan konsisten melalui gotong-royong bersama segenap anggota komunitas di sekolahnya

Topik 2 : Pemetaan Tantangan dan Kekuatan Komunitas / Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Peserta Didik

Topik kedua mata kuliah proyek kepemimpinan ini membahas tentang pemetaan tantangan dan kekuatan kumunitas yang pada prosesnya akan membahas tentang cara perpikir sistem. Topik ini menarik sekaligus bermakna bagi saya oleh karena dalam pembelajarannya saya banyak mempelajari tentang pendekatan berpikir sistem terhadap sebuah organisasi atau kemunitas. Adapun pendekatan yang dimaksud ialah berupa Suistainability NEWS yang dimana  merupakan akronim daripada dimensi sistem yakni Nature, Ekonomy, Wellbeing, dan Society. Saya juga mempelajari tentang pendekatan inquari apresiatif yang adalah pendekatan yang berbasis pada kekuatan daripada sistem yang strateginya dapat dilakukan melalui model 5-D BAGJA.

Proses belajar topik ini kemudian menjadi semakin menarik dan berkesan dengan pengetahuan yang diperoleh oleh kelompok kemudian diimplentasikan ke dalam perumusan proyek perubahan kelompok yang didasarkan pada pemetaan dan tangangan melalui observasi langsung di lapangan.

 

Topik 3 : Perencanaan Implementasi Dan Manajemen Proyek

Pada topik ketiga, pokok bahasan yang dipelajari selama prosesnya ialah terkait dengan perencanaan implementasi dan manajemen proyek. Proyek perubahan yang diprakarsai oleh masing-masing anggota kelompok pada topik sebelumnya kemudian dipilih satu untuk dijadikan sebagai proyek kelompok berdasarkan keputusan bersama. Proyek inilah kemudian disusun rancangan  perencanaan implentasi dan manajemennya sesuai dengan sitematika sayaan yang diperoleh kelompok berdasarkan proses pembelajaran pada topik yang ketika ini dimana dianataranya adalah dimulai dari profil proyek yang berfungsi sebagai informasi umum daripada proyek yang akan dilaksanakan, kemudian alur eksukusi proyek yang dimulai dari perijinan, membangun kemitraan, persiapan sumber daya, pelatihan, pendampingan, evaluasi, serta pelaporan.

Pada masing-masing tahap ini kelompok kemudian merumuskan perihal apa yang mesti dilakukan serta apa hasil yang diharapkan daripada perlakuan tersebut juga waktu yang diperlukan, hal ini penting menurut saya karena dari melalui kegiatan ini kelompok mulai memiliki gambaran kontekstual tentang apa yang mesti dikerjakan pada saat eksekusi kegiatan. Bagian selanjautnya perancangan anggaran, kualitas keberhasilan proyek, tugas dan tanggungjawab masing-masing anggota kelompok, serta terkahir alur komunikasi. Sebagai mahasiswa perumusan rancangan perencanaan implementasi dan manajemen proyek ini penting menurut saya oleh sebab dari proses ini saya dapat berlatih untuk dapat berpandangan kedepan, berimajinasi dalam menyusun rancangan yang mungkin, hasil dari latihan ini dapat berpengaruh pada proses perumusan rancangan pembelajaran yang merupakan suatu kegiatan yang wajib bagi seorang.

 

 

Topik 4 : Projek monitoring, evaluasi, dan laporan akhir.

Pada topik yang keempat dengan pokok bahasan proyek monitoring, evaluasi, dan laporan akhir. Proses yang dilalui oleh saya ialah kurang lebih memiliki kemiripan denga topik sebelumnya karena memang merupakan tahapan sistematis daripada perancangan sebuah proyek perubahan. Pada topik ini khususnya saya diajak untuk membuat sebuah rancangan penyimpangan yang kemungkinan akan muncul terutama pada aspek  waktu pelaksanaan, anggaran dan kualitasdan kemudian merumuskan alternatif perbaikan akan penyimpangan tersebut. Pada topik ini saya dan juga kelompok merumuskan manfaat dari proyek perubahan yang digagas terhadap seluruh pihak yang terkait. Pada topik ini pula saya sebagai anggota kelompok membuat sebuah rancngan persiapan peran dalam proyek kelompok. Proses-proses, tahapan-tahapan ini penting menurut saya oleh karena, melalui proses ini saya dilatih utuk dapat memprediksikan kemungkinan-kemungkinan khususnya kemungkinan negatif dari sesuatu yang nantinya akan dilaksanakan dan kemudian menyusun langkah alternatif jika kemungkinan tersebut menjadi kenyataan pada saat pelaksanaan. Saya juga dilatih dan disadarkan untuk selalu mempersiapkan diri dengan baik dengan mengetahui apa fungsi dan peran saya melalui dalam sebuah pelaksanaan baik secara invdu maupun kelompok melalui pembuatan jurnal peran anggota. Serta dengan pembuat rancangan manfaat proyek, saya lebih diberikan kesadaran bahwa orientasi daripada pelaksanaan segala macam kegiatan dan tindakan ialah manfaat terhadap orang lain.

 

Topik 5 : Proposal Proyek dan Strategi Komunikasi

Topik yang kelima sekaligus topik yang terakhir pada perkuliahan proyek kepemimpinan ini membahas tentang proposal proyek dan strategi komunikasi. Dari topik ini saya kemudian mendpatkan pengalaman terkait bagaimana seharunya sebelum melakukan komukasi dengan pihak-pihak yang dibersangkutan dengan pelaksanaan proyek diperlukan rumusan rencana komunikasi hal ini penting menurut saya agar komunakasi yang nantinya akan dilakukan akan lebih terarah dan terstruktur selain itu agar, kegiatan ini juga dimasukan kepada rancangan anggaran proyek. Dan diakhri perkuliahan topik ini saya dan kelompok diminta untuk merancang sebuah proposal proyek berdassarkan data-data yang telah disusun kelompok semenjak dari awal perkuliahan. Kegiatan ini penting dan bermakna bagi saya oleh sebab dari sini saya kemudian mendapatkan pengalaman bagaimana menyusun sebuah proposal kegiatan yang komprehensif yang bagi saya akan sengat berguna kedepannya dalam perjalan karir dan pengembangan diri saya.

Refleksi pengalaman belajar yang dipilih

Refleksi

Refleksi Topik 2 Pemetaaan Tantangan dan Kekuatan

Sebagaimana diuraikan pada sub review mata kuliah diatas bahwa pada topik ini saya mendapatkan pengalaman belajar tentang bagaimana melakukan pemetaan tantangan dan kekuatan yang hasil ini nantinya akan digunakan guna peningkatan kualitas. Dari topik ini kemudian saya mempelajari cari berpikir sistem yang sebagi sebuah kesatuan daripada beberapa bagian dimana kinerja sistem secara keseluruhan akan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada kinerja bagian-bagian tersebut secara individu.

 

Adapun guna proses pemetaan dan juga pengidentifikasian tantangan dan kekuatan, pada topik ini kemudian saya dikenalkan ada istilah-istilah baru terkait dengan pendekatan yang dapat dilakukan yakni Suistainability NEWS dan inquiri apresiatif dengan menggunakan metode 5D-Bagja yang terdiri atas Define, Discover, Dream, Design, dan Deliver. Singkatnya pada tahapan-tahapan ini difungsikan untuk merumuskan serta menggali potensi-potensi yang dimiliki sebuah sistem untuk kemudian dijadikan pijakan dalam membuat tindakan. Hal ini menjadi penting bagi saya oleh sebab pengetahuan ini akan sangat berguna bagi saya terutama dalam menjalankan fungsi sebagai seorang guru. Dari kedua pendekatan ini saya kemudian dapat beroeritasi terhadap capaian-capaian positif di dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri sebab salah satu definisi dari motode 5D- Bagja ialah “semangat mengapresiasi- dan proses bertahap dalam menyelidiki segala kekuatan, aset, dan hal positif di sekolah (komunitas) yang memungkinkan terjadinya upaya gotong-royong demi mewujudkan prakarsa perubahan yang diperlukan untuk mencapai visi yang berpusat pada peningkatan kualitas pembelajaran murid (anak)”.

 

Adapun dalam proses perkuliahan ini salah satu langkah yang ditempuh mahasiswa termasauk saya dalam mempelajari topik terkait pemataan tantangan dan kekuatan ini ialah dengan mengimplementasikan langsung terhadap proyek perubahan yang sedang digagas oleh kelompok dimana saya dan kelompok saat itu melakukan observasi dan langsung terhadap sasaran proyek serta melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat dan terkait untuk kemudian hasil dari kedua kegiatan tersebut dapat dianalis oleh kelompok untuk memetakan tantangan dan kekuatan yang dimiliki oleh sasaran proyek. Kegiatan ini penting oleh karena, dengan begitu saya dan juga kelompok dapat mengimplentasikan langsung, dapat mengkontestuakan, pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh terkait dengan pendekaran dalam memetakan tantangan dan kekuatan.

 

Analisis artefak pembelajaran

Analisis Artefak

Link Artefak

 

Artefak yang pertama berisi bagan hubungan antar dua gambar impementasi kurikulum merdeka dan keberhasilan proses pembelajaran. Bagan ini disusun dengan menggunakan pendekatan Sustainability NEWS dan metode 5D-Bagja. pendekatan Sustainability NEWS digunakan untuk mengidentifikasi variabel atau instansi yang mempengaruhi keterkaitan kedua gambar yang diperoleh hasil berupa pemerintah, sekolah, pengawas, komite, guru, rumah, dan lingkungan. Kemudian keterkaitan antara variabel-variabel ini diidentifakasi menggunakan metode 5D-Bagja yang pada intinya mencari kekuatan dan tantangan yang dimiliki setiap variabel untuk kemudian dilakukan tindakan dari sana seperti misalnya guru yang merupakan garda terdepan dalam meingkatkan pengetahuan orang dewasa tentang pola pembinaan yang sesuai dengan kondisi perkembangan mental anak.

Artefak kedua berupa pemetaan tantangan dan kekuatan yang didaptkan kelompok dari sasaran proyek perubahan yang akan dilakukan yaitu Sekolah Al-Irsyad di Gorontalo. Pada pemetaan ini terdapat beberapa tantangan yang didaptkan oleh kelompok yakni sekolah tersebut belum memiliki program pembinaan karakter terhadap peserta didik yang dibahas secara lebih khusus. Adapun pembinaan yang diberikan hanya dalam bentuk arahan secara umum terkait dengan hal-hal positif yang harus dilakukan oleh peserta didik. Dari sini pula kelompok selanjutnya merumuskan prakarsa-prakarsa perubahan yang mungkin dapat dilakukan kelompok untuk meningkatkan kualitas pada sasaran proyek.

 

 

Pembelajaran bermakna (good practices)

Kegaitan PPL 1 bagi saya merupakan sarana terbaik di dalam perkulian PPG Prajabatan ini untuk mendapatkan sebuah pembelajaran bermakna, oleh sebab kegiatan PPL 1 ini merupakan praktek langsung daripada apa yang selama ini saya dan mahasiswa lain dapatkan pada saat pembelajaran di kampus. Terdapat banyak hal bermakna yang saya dapatkan dari kegiatan PPL 1 ini, selain daripada yang telah saya jelaskan diatass, satu diantaranya ialah; pembuktian hipotesis saya bahwa sarana-prasarana, fasilitas, kepopuleran sekolah, hanyalah merupakan variabel pendukung pembelajaran adapun kunci keberhasilan utamanya ialah bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung di dalam kelas. Hal ini saya kemukakan oleh karena, saya yang sebelumnya pernah menjadi salah seorang guru dengan status tenaga honorer pada salah satu sekolah di daerah asal saya yang sangat terbatas dalam variabel-variabel yang saya sebutkan diatas namun bagi saya kemampuan peserta didiknya tak kalah dengan kemampuan peserta didik yang saya ajarkan di sekolah tempat PPL 1 yang merupakan salah satu sekolah unggulan di daerah tersebut. Hal ini kembali menguatkan sebuah prinsip pendidikan saya yakni bahwa, “bukan tentang dimana kita bersekolah akan tetapi bagaimana kita bersekolah.”

 

JURNAL REFLEKSI (PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI)

Nama Matakuliah

Proyek Kepemimpinan

Review pengalaman belajar.

Topik 1 : Teori-teori yang mendasari pembelajaran berdiferensiasi

Pengalaman belajar yang penulis dapatkan pada mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi topik satu terkait dengan teori-teori yang mendasari pembelajaran berdiferensiasi ialah perkenalan teori daripada Tomlinson yang menyatakan bahwa usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan beljar peserta didik sebagai individu. Dimana kebutuhan belajar disini dibagi menjadi tiga dimensi yakni kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik. Dari sini topik ini penulis juga mengetahui korelasi antara pembelajaran berdiferensiasi ini dengan pembelajaran pradigman baru yang dibawah oleh peralihan kurikulum menuju implentasi kurikulum merdeka yang membawa penulis pada kesimpulan bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan jalan yang dapat ditempuh agar pembelajaran paradigm baru ini benar-benar dapar terimplentasi dengan baik yang dengan memandang peserta didik sebagai individu-individu yang memiliki keunikannya masing-masing di dalam proses pembelajaran.

 

Topik 2 : Aspek-aspek pembelajaran berdiferensiasi

Topik dua mata kuliah ini membahas tentang aspek-aspek pembelajaran berdiferensiasi. Pengalaman belajar yang penulis peroleh dari topik bahasan ini ialah aspek-aspek pembelajaran berdirefensiasi itu sendiri yang terbagi atas empat yakni aspek konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Keempat aspek ini dapat diimplentasikan pembelajaran berdiferensiasinya dengan menggunakan dimensi kesiapan, minat atau profil belajar peserta didik yang pengampilkasiannya berupa pemberian variasi seperti pada aspek konten misalnya memvariasikan konten materi berdasarkan gaya belajar audio, visual, dan kinestetik. Gaya belajar audio dapat dengan materi dalam bentuk rekaman suara, visual dengan penampilan video atau gambar, sedang kinestetik dengan pengalaman belajar secara langsung.

 

Topik 3: Strategi pembelajaran berdiferensiasi

Pengalaman belajar yang penulis dapatkan dari topik yang ketiga terkait dengan strategi pembelajaran berdiferensiasi ialah berupa pengetahuan akan strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas yang diantranya ialah problem based learning, small grup discussion, jigsaw reading, dan problem based introduction. Adapun selain daripada itu stategi diatas, melalui aktivitas pembelajaran topik ini penulis juga bersama kelompok menemukan merumuskan strategi pembelajaran lainnya yang dapat digunakan yakni strategi SSCS atau Search, Solve, Create, dan Share. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada strategi ini dapat dilakukan degan langkah seperti pada tahap search peserta didik diberik kebebasan untuk mencari informasi berdasarkan gaya belajar masing-masing, yang kemudian pada tahap create juga produk yang dihasilkan juga diselaraskan dengan minat atau kemampuan masing-masing peserta didik.

 

Topik 4 : Rencana dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi

Topik keempat membahas tentang rencana dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Pengalaman bekajar yang penulis dapatkan dari perjalanan pembelajaran topik ini berupa pengetahuan akan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mengimplentasikan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas yang dimana berdasarkan pengalaman tersebut penulis mengetahui bahwa langkah awal dan yang paling penting dalam mengimpelentasikan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas ialah dengan memetakan peserta didik. Pemetaan peserta didik yang dimaksud disini ialah berdasarkan kebutuhan belajarnya yakni dimensi kesiapan, minat, dan profil belajar, dimana pemetaan ini dapat dilakukan dengan melakukan tes diagnostik diawal pembelajaran terhadap peserta didik. Dari hasil ini kemudia guru dapat menyusun rancangan pembelajaran dan kemudian mengimplementasikannya. Dari topik ini penulis juga mendapatkan pengalaman berupa bagaimana menyusun sebuah rancangan pembelajaran berdirefensisi dalam bentuk RPP/ModulAjar dan kemudian mengimplentasikannya di dalam pembelajran microteaching bersama teman sejawat.

 

Topik 5 : Evaluasi pada pembelajaran berdiferensiasi

Topik kelima sekaligus topik terakhir dari mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi ini membahas tentang evaluasi pada pembelajaran berdiferensiasi. Pengalaman belajar yang penulis peroleh dari aktivitas pembelajaran topik ini ialah berupa pengetahuan akan kreteria-kreteria daripada pengimplentasian pembelajaran di dalam kelas yang dimana tidak semua daripada kriteria tersebut telah penulis penuhi dalam rencangan maupun imlentasikan pembelajaran berdiferensiasi yang penulis rumuskan dan lakukan. Pengalaman lainnya ialah bagaimana mengevaluasi hasil rumusan rancangan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dari teman sejawat yang daripada kegiatan ini menambah pengetahuan penulis dalam penguasaan terhadap mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi ini secara keseluruhan.

Refleksi pengalaman belajar yang dipilih

Refleksi

Refleksi Topik 4 Rencana dan Implentasi Pembelajaran Berdiferensiasi

Topik rencana dan implentasi pembelajaran berdiferensiasi menurut hemat penulis merupakan intisari dari proses pembelajaran mata kuliah ini oleh sebab pada akhirnya melalui proses pembelajaran mahasiswa diharapkan mampu untum membuat rancangan pembelajaran berdiferensiasi dan kemudian mengimplentasikan di dalam kelas. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, topik ini penting untuk dipelajari sebab akumulasi akan pengetahuan-pengetahuan terkait pembelajaran berdiferensiasi akan nampak pada rancangan dan implentasi yang kita buat dan lakukan. Untuk mempelajari topik ini penulis membuka kembali bahasan-bahasan terkait dengan dimensi kebutuhan belajar, aspek pembelajaran berdiferensiasi, serta strategi yang dapat dilakukan, selain itu penulis juga mencari contoh-contoh RPP/Modul Ajar pembelajaran berdiferensiasi dari sumber yang relevan serta mengamati video-video yang menampilkan implentasi pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas. Langkah ini penting bagi penulis oleh sebab melalui proses ini penulis dapat memperoleh satu gambaran yang utuh terkait dengan rancangan pembelajaran berdiferensiasi seperti apa yang akan penulis rancangan selanjutnya

 

Analisis artefak pembelajaran

Analisis Artefak

Link Artefak

 

Artefak yang dilampirkan berupa rancangan pembelajaran berdiferensiasi berupa modul ajar serta video implementasi dari rancangan tersebut. Pada rancangan yang penulis susun, penulis mengambil dimensi kesiapan belajar dengan berfokus pada aspek proses. Dimensi dan aspek pembelajaran berdiferensiasi disini akan nampak pada sintaks pembelajaran dengan menggunakan strategi inquiri terbimbing yang dimana pengelompokan peserta didik akan dilakukan berdasarkan kesiapan belajar peserta didik. Kesiapan yang maksud disini lebih cenderung kaitannya dengan kemampuan kognitif peserta didik. Aspek proses yang digunakan penulis disini berupa pemberian variasi dukungan atau bimbingan dimana penulis sebagai guru akan lebih banyak melakukan pembimbingan kepada kelompok peserta didik yang memiliki kesiapan belajar rendah, dukungan disini dimulai dari tahap merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, hingga membuat kesimpulan. Dilihat daripada rencana dan implementasi daripada pembelajaran berdiferensiasi yang penulis rancang dan lakukan, masih memiliki beberapa kekurangan terutama jika dieavaluasi menggunakan intrumen evaluasi pembelajaran berdiferensiasi pada topik kelima akan tetapi terdapat salah langkah yakni langkah terakhir yang penting dalam mengimplentasikan pembelajaran berdiferensiasi sebagaimana tertulis di dalam aktivitas belajar mata kuliah ini yakni, percobaan, dan melalui rancangan modul ajar dan video tersebut penulis telah melaksanakan langkah tersebut yakni mencoba.

 

Pembelajaran bermakna (good practices)

Pembelajaran bermakna dari proses permbelajaran mata kuliah pembelajaran berdiferensiasi ini ialah pemahaman akan bagaimana orientasi pendidikan yang dirancang oleh pemerintah melalui kementerian pendidikan saat ini ialah bagaimana benar-benar memusatkan pembelajaran terhadap peserta didik dan melalui pembelajaran berdiferensiasi, jalan menuju orientasi ini dapat dilakukan. Tak dapat dipungkiri bahwa pengimplementasian daripada pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas tidaklah mudah untuk dilakukan apalagi dengan realitas dunia pendidikan Indonesia saat ini terutama terkait dengan kesenjangan pendidikan antar daerah serta kesenjangan aspek-aspek yang lain, akan tetapi berdasarkan proses pembelajaran ini penulis mendapatkan pembelajaran bahwa langkah penting dalam pengimplentasian pembelajaran berdiferensiasi ialah mencoba. Untuk itu mari sama-sama kita mencoba, untuk perbaikan pendidikan, untuk menunaikan amanat undang-undang.

 


MODUL AJAR IPA KELAS VIII

PDF