Monday, October 23, 2023

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL TOPIK 3 COMPUTATIONAL THINGKING

 

Nama/NIM                                        : Nur Ainun Fadhilah Idris

Jenjang/mata pelajaran yang diampu: SMA/Biologi

Kode soal                                           : SEL.09.2-T3-4 D

Judul soal                                           : BATU HITAM DAN BATU PUTIH

No.

Pertanyaan

Jawaban

1.

Tuliskan solusi untuk soal ini !

3 batu (putih)

2.

Tuliskan Langkah-langkah berpikir anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini !

1.Untuk memenangkan permainan, karna Andi merupakan permain pertama yang mengambil batu, maka ia perlu menciptakan langkah ganjil yang dengan begitu ia akan menjadi orang terakhir yang akan mengambil batu. Oleh karena terdapat 10 batu itu sebabnya kemungkinan langkah ganjil yang tercipta ialah 3, 5, 7, dan 9.

2.Agar ia memiliki presentasi kemenagan yang tinggi, maka andi perlu menciptakan langkah ganjil seminimal mungkin. Itu sebabnya ia perlu mengambil batu paling maksimal daripada peraturan yang ada. Artinya ia harus mengambil 3 batu (putih)

3.Pada saat 3 batu (putih) diambil oleh Andi sebagai pemain pertama, maka batu yang akan tersisa berjumlah 7 dengan sebaran 4 batu putih dan 3 batu hitam.

4.Dengan tersisa 7 batu dan peraturan hanya dapat mengambil 3 batuh putih dan 2 batu hitam serta tidak boleh mengambil batu dengan warna yang berbeda, maka langkah ganjil yang paling minimal dan paling mungkin Andi ciptakan untuk memenangkan permainan adalah 5 langkah 3 langkah tidak mungkin tercipta dengan peraturan yang ada.

5.Untuk menciptakan 5 langkah maka yang perlu dilakukan oleh Andi selanjutnya ialah menghabiskan batu yang diambil oleh Budi sebagai pemain kedua. Jika Budi mengambil Batu putih maka sisa batu putih harus diambil Andi, jika Budi mengambil batu hitam maka Andi harus mengambil sisa batu hitam. Dengan mengikuti pola tersebut maka Andi akan pasti menciptakan 5 langkah permainan dan memenangkan permainan

 

3.

Identifikasi 4 fondasi CT yang anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini !

Dekomposisi:

Mengenali masalah-masalah andi yakni apakah ia harus mengambil batu putih atau batu hitam dan mengambil dengan jumlah berapa

Pengenalan Pola:

Karena Andi pemain pertama, maka andi perlu untuk menciptakan langkah ganjil untuk memenangkan permainan. Langkah ganjil yang diciptakan juga perlu seminimal mungkin agar kemungkin Andi untuk menang besar.

Abstraksi:

Untuk menciptakan langkah ganjil seminimal mungkin maka andi perlu mengambil baru paling maksimal dari peraturan yang ada batu artinya disini kita mengeliminasi kemungkinan kita untuk mengambil batu yang lebih sedikit daripada itu.

 

Algoritma:

Sesuai dengan peraturan, batu paling maksimal yang dapat diambil ialah 3 batu.

Dengan tersisa 7 batu, berikutnya andi hanya perlu menciptakan langkah ganjil paling minimal yakni dengan menghabiskan warna batu yang akan diambil oleh Budi sebagai pemain kedua. Dengan begitu akan tercipta 5 langkah dan Andi pasti akan memenagkan permainan.

4.

Adakah contoh dalam kehidupan sehari-hari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini?

Contoh:

Pekerja pencetak bbatu bata

 

Fondasi CT

Dekomposisi:

Pekerja pencetan batu bata mimilah persoalan yang ia hadapi dalam pencetakan batu bata yakni meghitung batu bata yang dicetak dan menyusun batu batu yang dicetak serta bagaimana menyusunnya

Pengenalan pola:

Berdasarkan pengalaman kerjanya ia mengenali bawah menyusun batu bata terlebih dahulu lebih baik dalam menyelesaikan pekerjaannya. Berdasarkan pengalamannya ia juga memengetahi bahwa susunan batu bata dengan dasar yang banyak akan menghasilkan susunan yang tidak terlalu tinggi sehingga mudah roboh.

Abstraksi:

Ia mengenali bahwa dengan menyusun batu bata terlebih dahulu ia dapat dengan mudah menghitung batu bata hasil cetakannya sehingga persoalan menghitung ia dapat abaikan sementara.

Algoritma:

Ia menyusun batu bata dengan dasar paling maksimal dari susunan batu batu yang diinginkan bosnya. Sehingga susunan batu bata yang dihasilkan tidak terlalu tinggi dan mudah roboh selain itu mempermudah ia untuk menghitung jumlah batu bata yang telah ia cetak.

 

COMPUTATIONAL THINGKING (AKSI NYATA TOPIK 2)

 1. Bagaimana perasaan Anda saat menelaah lebih lanjut mengenai CP CT dalam pertemuan kuliah ini?

 Dengan menelaah CP CT terutama pada fase kelas yang saya ampuh, saya merasa tertantang untuk dapat menintegrasikan CT ini sendiri di dalam pembelajaran dan dalam menyusun perangkat nantinya 


2. Tuliskan pengetahuan-pengetahuan baru yang Anda dapatkan dari pertemuan ini. 

Pengetahuan-pengetahun baru yang penulis dapakan melalui pembahasan topik ini adalah CT bukan hanya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melainkan CT juga dapat di implementasikan dalam pembelajaran dan CT telah di tuangkan di dalam CP pada setiap fas

COMPUTATIONAL THINGKING (AKSI NYATA TOPIK 5)

 

  1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam proyek STEM?
  2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini?
  3. Jelaskan bagaimana rencana Anda dalam mengintegrasikan CT di dalam proyek STEM di kelas yang Anda ajar kelak.

 

JAWABAN

1.    Pengalaman yang penulis dapatkan dalam pengintegrasian CT kedalam proyek STEM ialah dalam hal bagaimana menggunakan logika berpikir agar proyek yang dihasilkan mampu untuk atau sesuai dengan unsur-unsur CT seperti dalam hal keefektifan serta keefisienan. Bagian ini merupakan pengalaman menarik bagi penulis oleh sebab dengan begitu penulis dapat menginstegrasikan langkah ini dalam penyelesaian-penyelesaian kasus-kasus lain dalam konteks kehidupan nyata

2.    Penulis merasa tertarik dalam mengerjakan modul ini dengan alasan sebagaimana penulis tulis sebelumnya, penulis merasa bahwa apa-apa yang didapatkan dari proses pembelajaran pada modul ini dapat di kontekstualkan di dalam kehidupan penulis

3.    Yang terbesit di kepala penulis terkait dengan pengintegrasian CT di dalam proyek STEM di dalam kelas nantinya adalah dengan menanamkan sebuah konsep materi kepada peserta didik dan kemudian meminta mereka menerapkan konsep tersebut ke dalam sebuah proyek STEM karena menurut hemat penulis salah-satu keberhasilan peserta didik dapat membuat sebuah proyek ataupun inti dari pengerjaan proyek itu sendiri ialah pemahaman konsep peserta didik. Baru kemudian akan peserta didik diminta untuk membuat laporan daripada proyek tersebut yang didalam sistematika penulisannya terdapa unsur-unsur computational thingking.

 

COMPUTATIONAL THINGKING (AKSI NYATA TOPIK 3)

 

  1. Pengalaman menarik apa saja yang Anda dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan? Anda bisa menceritakan keberhasilan dan kegagalan yang Anda alami dalam mempelajari topik ini.

Pengalaman menarik yang saya dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan persoalan yang ada dengan menggunakan langkah-langkah yang sistematis. Dengan menggunakan fondasi berpikir CT saya dapat dengan mudah menyelesaikan secara efektif dan efisien. Walaupun menghadapi soal-soal permasalahan yang awalnya menurut saya susah setelah di analisis dengan menggunakan fondasi CT dapat dengan mudah diselesaikan.

  1. Apakah terjadi perubahan cara berpikir yang Anda alami setelah mempelajari topik CT dalam problem solving?

Secara tidak langsung pola berpikir saya dapat menjadi sistematis dalam menyelesaikan masalah

  1. Apakah ada perbaikan yang dapat Anda lakukan terhadap cara mengajar Anda nantinya setelah mempelajari topik CT dalam problem solving?

Perbaikan untuk diri saya kedepannya harus menarasikan langkah-langkah dengan baik.

 

 

COMPUTATIONAL THINGKING (AKSI NYATA TOPIK 1)

 

AKSI NYATA TOPIK 1

NUR AINUN FADHILAH IDRIS/MIPA

  1. Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini?

Harapan saya dalam mengituti mata kuliah CT ialah saya mampu untuk menyelesaiakan persoalan yang sederhana hingga kompleks pada kehidupan sehari-hari maupun pada pembelajaran untuk menularkan proses berpikir tersebut kepada orang-orang di sekitar, terlebih kepada peserta didik. Mampu menghasilkan RPP/ Modul Ajar yang mengintegrasikan CT di dalamnya serta dapat dapat memilih persoalan yang kompleksitasnya sesuai usia siswanya, berdasarkan bidang ilmunya. Untuk itu, perlu dipilih proses, strategi dan metode yang tepat di dalam pembelajaran di bidang masing-masing, agar dapat didesain solusi yang tepat juga.

  1. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT?

Pemahaman baru yang saya dapatkan dari pembelajaran CT terdapat 4 fondasi utama yaitu dekomposisi, rekognisi, abstraksi, dan algoritma untuk menghasilkan solusi efektif, efisien, dan juga optimal bagi persoalan apapun yang dihadapi.

  1. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda?

Dengan keberadaan CT  saya dapat menyelesaiakan persoalan-persoalan secara logis dan sistematis, sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari cara berpikir ini sangat baik dalam memformulasikan persoalan dan berstrategi dalam memilih solusi yang paling efektif, efisien, optimal untuk dikerjakan

  1. Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT?

Setelah mempelajari CT saya lebih mudah menyelesaiakan masalah menggunakan pola-pola yang telah di alami sebelumnya, saya dapat menerapkan metode-metode dalam penyelesaian masalah baik untuk menyelesaikan masalah pribadi atau dalam pembelajaran 

Penulis yang sebelumnya senang bergaul dengan penggunan logika merasa gembira dengan pembelajaran CT yang dengan begitu penulis dapat menerapkan metode-metode penggunaan logika dan memperkayanya dalam pembelajaran CT ini sendiri.

  1. Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya?

Potensi kendala yang dirasakan ataupun yang dialami yaitu matakuliah ini masih baru dan masih minimnya referensi yang saya ketahui sehingga masih diperlukan waktu, Latihan, dan adaptasi dalam mengimplementasikan CT.

UAS PPA II

 

1.      Pembelajaran dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching merupakan pembelajaran yang menekankan pada pendekatan etnopedagogi. Etnopedagogi sendiri adalah perwujudan pembelajaran yang bertujuan guna menumbuh kembangkan nilai-nilai kearifan lokal yang mempunyai ciri- ciri: (1) bersumber pada pengalaman, (2) sudah diuji secara empiris selama bertahun-tahun, (3) bisa disesuaikan dengan budaya modern, (4) melekat dalam kehidupan individu serta institusional, (5) rata-rata dilakukan oleh pribadi serta kelompok, (6) bertabiat dinamis,  serta (7) terpaut dengan sistem keyakinan. Dengan karakteristik penduduk Indonesia yang beragam suku, bahasa, seni, budaya serta adat menggambarkan kemampuan luar biasa yang bisa digunakan sebagai fasilitas untuk mensukseskan seluruh proses pendidikan. Sehingga dari sini dapat di Tarik sebuah kesimpulan bahwa pembelajaran Culturally Responsive Teaching adalah pembelajaran dengan pendekatan nilai-nilai kearifan lokal guna meningkatkan konsep belajar peserta didik lewat intereaksi dengan lingkungan belajar sebagai media budaya yang diciptakan oleh kerja sama sosial antara peserta didik dengan lingkungan belajarnya.

 

2.      Etnopedagogi merupakan sebuah entitas yang tidak dapat dipisahkan dengan Culturally Responsive Teaching oleh karena sebagaimana dituliskan diatas bahwa entopedagogi sendiri merupakan perwujudan pembelajaran yang bertujuan guna menumbuh kembangkan nilai-nilai kearifan lokal. Etnopedagogi menekankan pada pendidikan yang senantiasa memperhatikan nilai-nilai budaya lokal dengan memperhitungkan aspek budaya global dari sini dapat di ambil sebuah kesimpulan bahwa landasan entopedagogi merupakan model pembelajaran yang penerapannya dapat dilakukan dengan pendekatan pembelajaran Culturally Responsive Teaching

 

3.       Tentu setiap materi atau sub materi di dalam setiap subjek pelajaran memiliki karakteristiknya masing-masing. Karakteristik inilah yang nantinya dapat kita kontekstualkan dengan menghubungkannya pada budaya lokal peserta didik. Jadi artinya disini budaya lokaal berfungsi sebagai media kontekstual untuk memberikan peserta didik pembelajaran secara nyata terhadap sebuah materi atau secara akademis dapat ditulis dari abstrak ke konkret atau sebaliknya dari kontestual ke abstrak.

 

4.       Buatlah Alur matriks salah satu budaya dengan konsep pelajaran tertentu1

 





PPA II (SIKLUS 2 KONEKSI ANTAR MATERI)


Tebel 1. Refleksi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran

Komponen RPP

         Kelebihan

Kekurangan

Rencana Pebaikan

RPP dengan muatan budaya

Dengan mengintegrasikan budaya kedalam pembelajaran, menjadikan pembelajaran lebih konstestual bagi peserta didik

Belum ada

Memaksimalkan kelebihan pada pengintegrasian budaya

Model Pembelajaran yang dipilih

Model pembelajaran problem based learning (PBL) yang dipilih dapat memantik semangat dan minat belajar peserta didik sebab peserta didik diminta untuk memberikan solusi terhadap ganggguan pada sistem ekskresi degann mengintegrasikan obat-obat tradisional atau pengobatan alternatif

Peserta didik akan sulit mencari sumber-sumber yang valid dan relavan terkait solusi yang akan diberikan

Menyediakan atau mengarahkan kepada peserta didik sumber-sumber yang relevan dan valid terlebih dahulu untuk digunakan sebagai literature penyelesaian masalah

Bahan ajar

Bahan ajar yang disusun telah baik dengan menyertakan materi ajar secara keselurahan serta gambar-gambar ilustrasi,.

Belum ada

Memaksimalkan penyusunan bahan ajar

LKPD

LKPD yang disusun telah susuai sintaks pembelajaran serta disusun dengan tampilan yang menarik bagi peserta didik

Belum ada

Memaksimalkan penyusunan LKPD yang menarik bagi peserta didik

Jenis Asesmen

Asesmen yang dirancang juga telah sesuai untuk mengukur ketercapaian tujun pembelajaran

Stimulus soal masih kurang untuk mengarahkan peserta didik memahami konsep pembelajaran secara utuh

Menyusun asesmen dengan stimulus yang baik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Rencana Tidak Lanjut

No

Program

Tujuan Kegiatan

Waktu dan tempat

Pihak yang terlibat

Sasaran

Hasil yag diharapkan

1.

Mengidentifikasi karakteristik materi ajar

Mengetahui karakteristik materi ajar untuk dapat dipadukan dengan unsur budaya setempat

Sebelum pelaksanaan pembelajaran

Guru

Guru

Guru dapat memahami karakteristik materi ajar

2.

Mengidentifikasi karakteristik peserta didik

Mengetahui karakteristik peserta didik terutama berkaitan dengan asal, kemampuan, minat, dan lain sebagainya

Sebelum pelaksanaan pembelajaran

Guru dan peserta didik

Guru dan peserta didik

Guru dapat mengetahui karakteristik peserta didik di kelas yang akan dilakukan pembelajaran

3.

Mengidentifikasi model pembelajaran

Mengetahui model pembelajaran yang tepat pada materi ajar serta budaya yang akan diintegrasikan

Sebelum pelaksanaan pembelajaran

Guru

Guru

Guru dapat menentukan model pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam membejarkan materi ajar dan pengintegrasian unsur budaya

4.

Menyusun bahan ajar

Menyusun bahan ajar yang lengkap dan menarik serta menyertakan sumber yang valid dan relevan sebagai literature kepada peseta didik

Sebelum pelaksanaan pembelajaran

Guru

Guru

Guru dapat menyusun bahan ajar yang lengkap dan menarik bagi peserta didik  salah satunya dengan menyertakan video pembelajaran serta mencari literature yang valid dan relevan untuk menjadi bahan bacaan peserta didik

5.

Menyusun LKPD

Menyusun LKPD yang sesuai model pembelajaran yang digunakan dengan mengangkat masalah yang terintegrasi dengan unsur budaya

Sebelum pelaksanaan pembelajaran

Guru

Guru

Guru dapat menyusun LKPD yang sesuai model pembelajaran yang digunakan serta mengangkat masalah yang berkaitan dengan unur budaya setempat dan meletakannya diawal lembar LKPD

6.

Menyusun Langkah Kegiatan Pembelajaran

Menyusun langkah kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks model pembelajaran

Sebelum pelaksanaan pembelajaran

Guru

Guru

Guru dapat menyusun langkah kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks model pembelajaran

7.

Menyusun Asesmen

Menyusun asesmen dengan soal yang memiliki stimulus yang baik

Sebelum pelaksanaan pembelajaran

Guru

Guru

Guru dapat menyusun asesmen dengan soal yang memiliki stimulus yang baik

 

Tebel Bantuan pelaksanaan RTL

Materi belum tuntas

Karakteristik peserta didik

Karakteristik muatan budaya

Karakteristik materi

Sistem Reproduksi

Peserta didik yang menjadi target pembelajaran merupakan peserta didik yang tinggal di Kota Gorontalo yang mayarotitas beragama islam

Salah satu budaya yang ada pada masyarakat muslim Gorontalo ialah adat Moluuna adalah upacara khitan (sunat) bagi anak laki-laki di Gorontalo  yang dilakukan kepada anak usia berusia 10 sampai 12 tahun, dan sudah tamat mengaji.

Salah satu sub materi di dalam materi ajar sistem reproduksi adalah tentang gangguan pada sistem reproduksi. Sub materi ini akan berkaitan dengan tradisi Moluuna atau upacara Khitan/sunat yang pada esensinya ialah agar alat kelamin pria menjadi bersih dan terhidar dari penyakit

 


 


MODUL AJAR IPA KELAS VIII

PDF